Nasib Tenaga Honorer, Sudah Gaji Kecil Dipotong Lagi

INFOSULSEL.COM, MAKASSAR – Sejumlah tenaga kontrak yang ada di lingkup Pemerintahan Kota Makassar merasa tidak dihargai oleh sikap salah satu  pegawai di Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Makassar.

Pegawai yang diketahui bernama Akmal  dinilai telah merendahkan tenaga honorer, lantaran pengabdiannya selama bertahun-tahun bekerja untuk pemerintahan tidak ada penghargaan sama sekali.

Bermula dari rapat pertemuan yang diselenggarakan pihak BKD, dalam rangka  sosialisasi kepesertaan BPJS Kesehatan yang dihadiri seluruh tenaga kontrak di empat SKPD serta pihak BPJS Kesehatan  di Gedung Eks PKK Kota Makassar, Jalan Anggrek, Kamis (26/9/2019).

Awalnya sejumlah tenaga kontrak yang berasal dari empat SKPD yakni, Sekretariat DPRD Makassar, Kecamatan Ujung Tanah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah(BPBD) dan Dinas Perikanan dan Pertanian Pemkot Makassar, tersebut menyampaikan pendapatnya terkait rencana BKD memotong 5 persen gaji honorer yang diterima tiap bulannya untuk dibayarkan premi tunjangan BPJS Kesehatan.

“Dalam rapat itu kami menyampaikan pendapat dan meminta kebijaksanaan. Bahwa harusnya potongan untuk BPJS kesehatan dari gaji yang kami terima tidak disamakan dengan potongan gaji karyawan yang menerima upah penuh standar UMP. Sebab  gaji honorer bukan standar UMP, jadi kami mengusulkan agar potongannya lebih kecil yakni 2 persen dari gaji, “terang salah seorang tenaga honorer di Sekretariat DPRD Makassar..

Bukannya memberi penjelasan kepada tenaga honorer,  Akmal, pegawai BKD yang juga diketahui masih berstatus sebagai honorer justru menimpali honorer dengan kata-kata yang membuat hati pegawai teriris.

“Akmal justru berkata kenapa selama ini mau bekerja dan bertahan sebagai honorer kalau mengeluh gajinya kecil,” ungkap Riska menirukan ucapan Akmal.

Riska yang sudah puluhan tahun  menjadi honorer itu mengaku ikhlas bekerja, dan tidak menyoalkan gajinya kecil.

“Dipertemuan itu kita tidak bahas gaji, kita bahas soal BPJS kesehatan. Harusnya kalau sikap BKD seperti itu tidak perlulah mengundang tenaga kontrak untuk diajak berdialog, langsung saja potong. Karena dari dulu di awal kita kerja, kita sudah tahu gaji honorer kecil,” jelas Riska.

Riska mengatakan oknum pegawai BKD tersebut harusnya lebih bijak kepada tenaga honorer,apalagi statusnya juga masih honoree.

“Seakan tenaga kontrak tidak punya andil apa-apa dalam menjalankan pemerintahan, Terus terang saya sakit hati, pihak BKD harusnya memberikan penjelasan terkait pemotongan itu dan memberi solusi, Inikan sama saja kita tidak dihargai,” ketus dia.

(Andi/Riel)

Pos terkait