Sulsel Ekspor 50 Ton Batang Cengkeh ke India

TOMOHON, 25/5 - PRODUKTIVITAS MENURUN. Onky (34) memperlihatkan buah cengkeh miliknya seusai panen di Desa Tinoor, Tomohon, Sulawesi Utara, Senin (25/5) Meski harga jual cengkeh mencapai Rp. 50 ribu/Kg namun produktivitas cengkeh tahun ini menurun drastis dibanding dengan tahun sebelumnya akibat tingginya curah hujan. jika tahun sebelumnya petani tersebut mendapatkan 200 kg tahun ini hanya mendapatkan 25 kg cengkeh kering. FOTO ANTARA/Basrul Haq/ed/mes/09

INFOSULSEL.COM, MAKASSAR – Kalau selama ini batang cengkeh jadi kotoran, di Sulawesi  Selatan justru menjadi salah satu komoditi ekspor.

Ekspor perdana 50 ton batang cengkeh sudah dilakukan di Pelabuhan Laut Soekarno Hatta Makassar, Jumat  (11/10/2019). Batang cengkeh senilai Rp hampir 400 juta itu dikirim ke India.

“Bertambah lagi ragam komoditas unggulan ekspor kita. Kami dorong terus mendorong pelaku usaha untuk terus mengekpor komoditas apa saja yang laku di pasar dunia,” kata Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan) Ali Jamil, dalam keterangan tertulisnya kepada sejumlah media, Jumat.

Di India, batang dari tanaman asli Indonesia ini dapat diolah menjadi minyak atsiri dan rempah-rempah.

Barantan Makassar mencatat data automasi IQFAST terjadi tren peningkatan ekspor komoditas pertanian Sulsel di beberapa indikator.

Indikator pertama, adanya peningkatan volume ekspor sebesar 3,5 persen atau 168,3 ton dibandingkan tahun sebelumnya. Pada periode Januari-Juni 2018 volume ekspor 162,6 ton. Frekuensinya juga meningkat 36,8 persen
dibandingkan tahun 2018 di periode yang sama.

Selama tahun 2019, terdapat 15 eksportir baru dari 35 eksportir yang mengekspor berbagai komoditas pertanian dari Sulsel seperti umbi porang, manggis, durian, mangga, markisa, vanili, talas satoimo dan kini batang cengkeh.

Negara tujuan ekspor juga bertambah dengan masuknya Thailand dan Belarus untuk komoditas mede dan Papua New Guinea untuk ekspor tepung terigu.

“Kita dorong bersama. Asal dijaga 3 K-nya, kualitas, kuantitas dan kontinuitasnya untuk cita-cita bersama menjadi lumbung pangan dunia di tahun 2045,” kata Jamil.

Kepala Dinas Perdagangan Sulsel Hadi Basalamah sepakat peningkatan ekspor harus didorong bersama, apalagi kini ada program direct export atau metode pengiriman komoditas ekspor langsung. Metode ini lebih efisien. Selain membuka peluang bagi para eksportir untuk membuka pasar yang lebih luas, metode ini juga lebih hemat biaya.

(Riel)

Pos terkait