
INFOSULSEL.COM, MAKASSAR – Ketua Majelis Pimpinan Wilayah Pemuda Pancasila Sulawesi Selatan (MPW-PP Sulsel) St Diza Rasyid Ali bersyukur karena salah satu putra terbaik Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo dipercaya menjadi Menteri Pertanian pada kabinet baru Joko Widodo-Ma’ruf Amin periode 2019-2024.
‘’Selamat kepada Pak Syahrul atas jabatan barunya sebagai Menteri Pertanian. Sebagai teman dan sebagai sesama orang Bugis Makassar tentu saya bangga ada tokoh hebat dari Sulsel yang masuk dalam kabinet baru Jokowi-Ma’ruf Amin,” kata Diza Ali kepada INFOSULSEL.COM, Rabu (23/10/2019).
Presiden Jokowi baru saja mengumumkan 38 menteri dan anggota Kabinet Indonesia Maju periode 2019-2024 di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (23/10/2019) pagi.
Sebagai kader Pemuda Pancasila Diza menegaskan siap membantu dan mendukung program Syahrul Yasin Limpo.
‘’Saya tegaskan bahwa MPW Pemuda Pancasila Sulsel akan mendukung dan mengawal program Pak SYL,” tegas adik kandung politisi senior Partai Demokrat, Reza Ali ini.
Diza menuturkan hubungan keluarga besarnya dengan keluarga besar Yasin Limpo sudah terjalin sejak puluhan tahun. Kedekatan Diza dan SYL bersaudara pun sudah terjalin sejak tokoh ini masih berusia remaja. Diza dan adik kandung Syahrul, almarhum Ichsan Yasin Limpo malah lebih dekat lagi. Sebab keduanya teman sekolah. Begitu juga hubungan kakak sulung Diza, Reza Ali juga terbilang dekat dengan SYL bersaudara.
Karena itu ketika Diza mengaku melihat Syahrul tiba di istana kepresidenan melalui layar televisi, Selasa (22/10/2019) kemarin, ia mengatakan kalau Jokowi tidak salah memilih orang.
‘’Saya kira Pak Jokowi tidak salah memilih orang. Pilihannya sudah tepat. Apalagi prestasi Pak SYL selama memimpin Sulsel dua periode sangat berhasil. Tentu itu yang jadi pertimbangan Jokowi memilih Syahrul menjadi Menteri Pertanian,” tegas kakak kandung Wakil Ketua DPRD Kota Makassar, Adi Rasyid Ali, ini.
Di mata Diza, jejak Syahrul sebagai birokrat dinilai memenuhi syarat. Karirnya sebagai kepala daerah dimulai ketika menjabat sebagai camat, bupati Gowa dua periode dan gubernur Sulawesi Selatan, juga dua periode 2008-2018 bersama Agus Arifin Nu’mang sebagai wakilnya.
Pertanian bukan hal baru bagi putra kedua pasangan H.M. Yasin Daeng Limpo dan Nurhayati ini. Diza kemudian mengurai prestasi SYL dengan data angka ril keberhasilan yang dicapai. Tahun pertamanya menjadi Gubernur, SYL menargetkan peningkatan posisi Sulsel sebagai provinsi penyangga beras untuk kebutuhan nasional.
Target produksi padi 2008 sebanyak 4.042.471 ton gabah kering giling (GKG) yang didukung luas lahan sekitar 792.641 ha dengan tingkat produktivitas 51,00 kuintal/ha. Sementara itu, target tanam padi untuk musim tanam 2009 seluas 868.411 ha dengan sasaran produksi 5.084.323 ton GKG dengan produktivitas 58,55 kwintal/ha
Pada 2009, pergerakan ekonomi Sulsel juga mengalami pertumbuhan 7, 8 persen. Ini prestasi terbaik yang pernah dicapai Sulsel. Sebelumnya hanya 7,4 persen. Hal ini dipicu dengan surplus produksi jagung mencapai 1,5 juta ton. Bahkan Sulsel saat itu mampu mengekspor sekitar 8.000 ton jagung ke Malaysia dan Filipina.
Tantangannya sebagai Menteri Pertanian dalam kabinet baru tidak hanya menggenjot produksi saja, tetapi juga mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor komoditas strategis, seperti beras, jagung, daging, gula dan gandum.
Pada masa awal pemerintahannya, mantan SYL ini membuat kebijakan yang menghentak yaitu menetapkan target kuantitatif surplus dua juta ton beras. Penetapan target kuantitatif ini cukup fantastis, namun terukur, serta tidak dapat ditawar. Bayangan akan kegagalan mencapai target menjadi momok besar yang dapat menjatuhkan wibawa pemerintahan Syahrul dan Agus, kala itu.
Target surplus 1juta ton beras, bisa dikatakan hampir mustahil untuk dicapai saat itu. Betapa tidak, pada 2007 produksi padi Sulsel baru mencapai 3,635 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). Setara dengan 2,280 juta ton beras (asumsi rendemen 62,74 persen, berdasarkan data rendemen Dinas Pertanian RI tahun 2007).
Dengan jumlah populasi penduduk Sulsel tahun 2007 sebesar 7,675 juta jiwa dan konsumsi beras per kapita per tahun 110,28 kg (Statistik Konsumsi Pangan Pusat Data dan Informasi Pertanian, 2012), maka kebutuhan beras Sulsel pada tahun 2007 mencapai 846,497 ribu ton beras.
itu berarti untuk mencapai target surplus 2 juta ton beras, Sulsel harus memastikan peningkatan produksi beras sebesar 566 ribu ton, setara dengan 902,135 ribu ton GKG, atau naik hingga 24,81 persen.
Target tersebut terasa mustahil jika melihat perkembangan produksi padi Sulsel dari tahun ke tahun. Menurut data Bank Indonesia, laju pertumbuhan produksi padi Sulsel selama kurun waktu 2001-2006 tercatat sangat lamban. Rata-rata sekitar 0,20 persen per tahun.
Dengan tingkat pertumbuhan produksi seperti itu, butuh waktu sekitar 124,05 tahun bagi Sulsel untuk mencapai target over stock dua juta ton beras. Tapi, faktanya, dalam waktu kurang dari lima tahun, SYL membuktikan bahwa target tersebut bukan hanya sekedar janji politik.
Data BPS menunjukkan pada tahun 2011, produksi padi Sulsel melejit ke angka 4,51 juta ton padi GKG, dan kembali naik hingga menembus angka 5 juta ton pada tahun 2012, meningkat 1,365 juta ton padi GKG dari tahun 2007. Target surplus dua juta ton beras pun tercapai, bahkan terlampaui.
Pada titik ini, Syahrul mendorong batasan-batasan produksi pertanian padi Sulsel. Ia menunjukkan bahwa tidak ada yang mustahil dicapai apabila dikerjakan dengan sungguh-sungguh.
Segera setelah target surplus dua juta ton beras tercapai, Syahrul kembali meningkatkan target produksi dari tahun ke tahun. Hasilnya, pada penghujung 2017, jumlah produksi padi Sulsel mencapai 6,01 juta ton GKG.
Peningkatan surplus beras yang berhasil dicatatkan Sulsel dari tahun ke tahun secara konsisten, menghantarkan provinsi ini menjadi pilar utama penyangga pangan nasional. Beras produksi Sulsel telah dikirim ke berbagai provinsi di Tanah Air.
Pada 14 Juli 2015, Menteri Pertanian saat itu Amran Sulaiman melepas pengiriman beras produksi Sulsel ke 11 provinsi di Indonesia, yaitu Provinsi Kalimantan Barat, Maluku, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Papua, DKI Jakarta, Kepulauan Riau, Jambi, Riau, Sumatera Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam.
Berdasarkan data Analisis Keuangan Publik Sulsel Tahun 2012 yang disusun oleh Bank Dunia, selama periode 2005-2010, belanja sektor pertanian di Sulsel meningkat lebih dari dua kali lipat. Belanja sektor pertanian meningkat rata-rata 23,5 persen per tahun selama periode 2005-2011.
Pendekatan arah investasi yang berbeda juga tampak jelas antara periode pertama (2008-2013) dengan periode kedua (2013-2018) kepemimpinan Syahrul.
Pada periode pertama, investasi pemerintah tampak melalui berbagai paket bantuan sarana produksi langsung seperti pupuk dan bibit untuk mengakselerasi pertumbuhan produksi pangan. Pada periode ini teknologi sederhana diperkenalkan dan kualitas SDM petani ditingkatkan melalui penyuluhan dan sekolah lapang.
‘Wajar jika Presiden Jokowi menaruh kepercayaan kepada SYL sebagai Menteri Pertanian demi mewujudkan Indonesia sebagai swasembada pangan,” sebut Diza.
Apalagi rakyat indonesia yang mayoritas penduduknya petani membutuhkan tatakelola pertanian yang modern sehingga dapat mereposisi petani yang marginal miskin menjadi petani yang kaya dan sejahtera sekaligus menghadirkan kedaulatan dan ketahanan pangan yang kuat dalam pergaulan dunia intetnasional.
(Riel)





