SYL Menpan, Ini Harapan Amran Sulaiman

Syahrul Yasin Limpo mengangkut beras menggunakan motor millik petani di tengah sawah saat masih menjabat Gubernur Sulsel.(DOK)

INFOSULSEL.COM, MAKASSAR – Presiden Joko Widodo baru saja mengumumkan kabinet barunya. Salah satu putra Bugis Makassar yang masuk di jajaran Kabinet Indonesia Maju periode 2019-2024  adalah Syahrul Yasin Limpo (SYL).

Mantan Gubernur Sulsel dua periode ini menggantikan Amran Sulaiman yang juga putra Bugis sebagai Menteri Pertanian (Menpan). Nama SYL diumumkan oleh Jokowi di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (23/10/2019).

Bacaan Lainnya

“Yang berkaitan dengan hal pertanian, pangan, mengkorporasikan petani serta meningkatkan produktivitas pertanian, berada di bawah Pak Syahrul Yasin Limpo,” kata Presiden Joko Widodo

Sehari sebelumnya mengenakan baju kemeja putih SYL menghadap Jokowi. Di hadapan wartawan Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Nasdem ini mengaku siap mengemban tugasnya di sektor pangan dan pertanian.

Jejak Syahrul sebagai birokrat dinilai memenuhi syarat. Karirnya sebagai kepala daerah dimulai ketika menjabat sebagai camat, bupati Gowa dua periode dan sebagai gubernur Sulawesi Selatan, selama dua periode 2008-2018 bersama Agus Arifin Nu’mang sebagai wakilnya dua periode pula.

Bagi SYL, soal pertanian bukan barang baru bagi putra kedua pasangan H.M. Yasin Daeng Limpo dan Nurhayati ini. Tahun pertamanya menjadi Gubernur, Syahrul menargetkan peningkatan posisi Sulsel sebagai provinsi penyangga beras untuk kebutuhan nasional.

Target produksi padi 2008 sebanyak 4.042.471 ton gabah kering giling (GKG) yang didukung luas lahan sekitar 792.641 ha dengan tingkat produktivitas 51,00 kuintal/ha. Sementara itu, target tanam padi untuk musim tanam 2009 seluas 868.411 ha dengan sasaran produksi 5.084.323 ton GKG dengan produktivitas 58,55 kwintal/ha

Pada 2009, pergerakan ekonomi Sulsel mengalami pertumbuhan 7, 8 persen. Ini prestasi terbaik yang pernah dicapai Sulsel. Sebelumnya hanya 7,4 persen.

Hal ini dipicu dengan surplus produksi jagung mencapai 1,5 juta ton. Bahkan Sulsel saat itu mampu mengekspor sekitar 8.000 ton jagung ke Malaysia dan Filipina.

Tantangannya sebagai Menteri Pertanian dalam kabinet baru tidak hanya menggenjot produksi saja, tetapi juga mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor komoditas strategis, seperti beras, jagung, daging, gula dan gandum.

Menteri Pertanian pada periode sebelumnya, Amran Sulaiman, berharap tiga program di Kementerian Pertanian untuk tetap dilanjutkan oleh Syahrul.

Ketiga program utama tersebut meliputi optimalisasi pengembangan lahan rawa dan lebak, optimalisasi lahan tadah hujan yang didukung dengan sistem irigasi dan penggunaan minyak kelapa sawit (CPO) sebagai bahan bakar campuran solar sebanyak 30 persen dalam program mandatori B30.

(dbs/Andi/Riel)

Pos terkait