INFOSULSEL.COM, MAKASSAR – Kontestasi politik apalagi terdapat sajian metafor pertarungan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak, kerap kali dihadapkan dengan beberapa ancaman konflik dan perpecahan. Sifat egois dan rakus kekuasaan menjadikan sebagian orang menghalalkan segala cara untuk memenangi pertarungan. Politik uang menjadi salah satu wajah politik korup (corrupt politic) di negara ini.
Di sisi lain banyak masyarakat yang memang membutuhkan uang karena faktor kemiskinan, baik karena keadaan maupun kurangnya edukasi.Kondisi ini dijadikan sasaran empuk para politikus yang rakus dan egois. Akibatnya, biaya politik menjadi beban yang dahsyat. Sehingga pelaku politik dari sejak langkah awal akan berpikir bagaiamana modal kembali.
Pengamat Politik Kebangsaan, Arqam Azikin mengatakan hal utama menelaah seorang calon, tentu harus diuji gagasannya dengan cara terdidik bukan dengan cara melihat uangnya.
“Calon Wali kota dan calon wakil walikota jangan sampai salah arah. Dengan konteks mereka membicarakan tentang uang semata. Semua orang bilang ujung-ujungnya adalah uang. Tidak bisa begitu,” tegas Arqam bersama Rocky Gerung seusai menjadi narasumber, di Hotel Four Point, Jl. Andi Djemma, Ahad (26/1/2020).
”Kita perdebatkan gagasan mu apa? Mau membangun Makassar ini dengan cara apa, dengan cara koruptor? atau dengan manipulasi? atau dengan cara terdidik?,” tambahnya.
“Rocky dan saya memberikan gagasan bahwa membangun makassar itu dengan cara terdidik, bukan dengan cara pengecut, dengan memakai uang, memakai fasilitas elit saja dan konteksnya rakyat sudah tidak punya kekuatan,” terangnya Arqam.
Arqam yakin, dengan kekuatan pemuda dan masyarakat Makassar, segala stimulus politik menghalalkan segala cara dapat diminimalisir.
“Sekarang anak muda saya rasa dan warga masyarakat Makassar, gunakan kekuatanmu itu untuk melawan politik uang. Tidak ada yang sulit kalau mau,” ungkapnya.
Selain itu, Arqam mengingatkan pada para calon partai pengusung untuk mendahulukan gagasan bukan karena uangnya besar atau uangnya kecil, tetapi kemampuan mengelaborsi kepemimpinannya bukan kekuasaannya.
“Kalau kekuasan ujung-ujungnya uang, kau ajari dia dengan calon koruptor baru. Memilih calon wali kota dengan membenturkan dulu gagasan 5 sampai 10 tahun kedepan baru kita bicarakan potensi alam,” tutup Arqam.(andi)





