Puluhan Tahun Hidup Sebatang Kara di Gubuk Reyot, Kadis Sosial Kota Makassar : Masuk Kategori Miskin

Kadis Sosial Muhktar Tahir.

INFOSULSEL.COM, MAKASSAR — Kepala Dinas Sosial Kota Makassar H. Mukhtar Tahir langsung merespon kondisi miris Nenek Hasnah yang hidup sebatang kara di sebuah gubuk reyot di pinggir Jl Kerung-kerung, Kelurahan Barabarayya Utara, Kecamatan Makasar selama puluhan tahun.

Melalui video yang diterima INFOSULSEL.COM, sesaat lalu Mukhtar Tahir yang berdiri di samping Nenek Hasnah mengakui kalau perempuan renta ini  ternyata masuk dalam ketagori miskin.

Meski ia memiliki Kartu Indonesia Sejahtera (KIS) namun Nenek Hasnah ternyata tak pernah menerima bantuan apa-apa dari pemerintah.

‘’Masalahnya, ada persalan adminisitrasi yang harus ditelusuri. Kami kami upayakan untuk mencari tahu. Ini akan kami monitoring apa yang menjadi persoalan Ibu Hasnah,” katanya dalam video berdurasi 1 menit 37 detik.

Utta, sapaanya juga mengaku persoalan yang dihadapi janda yang sudah ditinggal mati suaminya sejak 40 tahun silam ini akan menjadi perhatian Dinas Sosial Kota Makassar.

Tak lupa Utta menyampaikan terima kasihnya kepada wartawan yang memviralkan persoalan ini sehingga Pemerintah Kota Makassar bisa lebih peduli

‘’Semoiga bisa menjadi kebaikan buat Ibu Hasnah ke depannya dan menjadi perhatian oleh pemerintah,” ujar Utta di akhir videonya.

Seperti diberitakan sebelumnya, seorang nenek berusia 80 tahun asal Bajoe, Kabupaten Bone ini hidup dalam kemiskinan di tengah jantung kota Makassar.

Ia tinggal di sebuah gubuk reyot berwarna kusam menempel di sebuah tembok pembatas. Gubuk itu berukuran 1,5 meter X 2 meter. Berdiri di atas selokan di pinggir Jl. Kerung-kerung, Kelurahan Barabarayya Utara, Kecamatan Makassar, kota Makassar.

Nenek tua ini sudah 20 tahun lebih hidup sebatang kara di gubuk reyot itu. Suaminya, Daeng Minggu sudah lama meninggal.   Ia ditinggal mati sekitar 40-an tahun silam.

Nenek Hasnah sesungguhnya dalam kondisi sakit. Di kaki kirinya ada benjolan sebesar telur. Sejak benjolan itu muncul, kakinya selalu terasa nyeri. Ini yang membuat ia susah untuk berdiri lama.

Sehari-hari Hasnah hidup dari belas kasihan orang lain.Ia bahkan kadang tidak makan seharian. Jangankan untuk makan, untuk tidur pun Nenek Hasnah harus tidur di samping kandang dengan beberapa ekor ayam piaraanya. Tempat tidurnya hanya selembar   papan bekas berukuran 50 Cm X 1,5 meter dan tak beralas kasur. Di gubuknya itu tak ada piring dan sendok. Apalagi kompor.

Untuk mengganjal perutnya ia kadang hanya minum air dari kemasan botol mineral bekas. Untuk menopang hidunya Nenek Hasnah juga berjualan mie instan dan rokok. Tapi hanya bermodal seadanya. Namun kadang modalnya habis untuk membeli makanan. Mie instan yang dia jual pun kadang tidak laku.

‘Rumahnya’  berdinding tripleks  bekas yang sudah tipis. Sebagian sudah terkelupas. Ukurannya 1,5 X 2 meter menempel di antara dinding tembok.  Kain  putih yang sudah berwarna kusam menjadi pintu saat ia istrahat pada malam hari. Beberapa spanduk bekas juga menghiasi dinding gubuk itu. Entah sudah berapa lama tidak dicuci. Kain spanduk ini ia pakai untuk menyelimuti tubuhnya saat tidur di malam hari.

Kain kusam menjadi pengganti pintu digantung di antara bambu yang melintang di bawah selembar seng bolong-bolong sebagai atap. Seng bekas itu sedikit melindunginya dari teriknya sinar matahari. Jika hujan turun atap seng itu tak mampu melindungi  Nenek Hasnah sepenuhnya. Sebab air hujan menetes di antara lubang-lubang seng atap.

Kini Hasnah hanya bisa pasrah meratapi hidupnya. Entah sampai kapan perempuan tua ini mengisi sisa hidupnya di gubuk kecil yang tidak layak tinggal itu. Berharap dari pemerintah pun sepertinya jauh panggang dari api.(riel)

Pos terkait