Mahasiswa Indonesia Alami Pelecehan, Dituduh Pembawa Virus Corona di AS

ILUSTRASI. Mahasiswa di AS.

INFOSULSEL.COM, MAKASSAR — Sebuah media online mahasiswa Diablo Valley College (DVC), California mengungkapkan sejumlah mahasiswa Indonesia mengeluh karena dituduh pembawa virus corona.

Dalam liputan tersebut media itu mengutip keterangan beberapa mahasiswa asal Indonesia yang mengalami pelecehan rasial. Mereka dituduh pembawa virus corona.

Bacaan Lainnya

Selain itu para mahasiswa Indonesia tersebut juga mengalami ‘pengusiran secara halus’ dari tempat tinggal mereka di kampus. Mereka harus segera meninggalkannya di tengah pandemi Covid-19.

DVC Inquirer (www.dvcinquirer.com), media online yang dikelola para mahasiswa itu, antara lain mengutip pernyataan Arcellia Budiman dan Carissa Tantiono, mahasiswi asal Indonesia yang sedang belajar komunikasi di DVC dan Jesslyn Putri, seorang alumni DVC dan Valerie Halim, mahasiswi jurusan Antropologi di Wheaton College, di Illinois.

Artikel dengan penulis Vania Prayogo berjudul For International Students at DVC and Across America, the Coronavirus Presents A World of Crisis, dilansir pada 2 Mei 2020. Sejauh ini belum diperoleh tanggapan dari pihak berwewenang.

Arcellia dan Carissa mengaku mendapat pelecehan rasial dari seorang perempuan kulit putih. Hal itu telah memicu rasa ketakutan pada mereka dan khawatir meningkatnya aksi xenophobia di masa pandemi corona saat ini.

“Saya merasa lelah dan dan tidak berdaya secara emosioal. Saya biasanya cukup kuat, tetapi pandemi ini secara langsung mempengaruhi masa depan dan kesehatan mental saya,” kata Arcellia seperti dikutip Viva.co.id, Rabu (6/5/2020).

Ia dan teman sekamarnya sesama mahasiswa internasional, Carissa, tengah berjalan ke toko yang menjual makanan di Pleasent Hill, ketika seorang wanita kulit putih paruh baya melakukan pelecehan dengan sasaran mereka berdua. Menurut Carissa, wanita itu meneriakkan cemoohan rasial “karena mereka terlihat seperti orang China.”

“Pada saat itu, kami sangat takut karena kami tidak tahu apakah dia juga akan menyakiti kami secara fisik. Kami berjalan begitu cepat,” kata Carissa.

Sementara itu DVC Inquirer mencatat keterangan Jesslyn Putri, yang mengkhawatirkan masa depannya di AS dan ingin kembali pulang ke Indonesia. Saat ini ia sedang menyelesaikan studi untuk mendapat gelar sarjana di University of South Florida (USF).

Ia mengkhawatirkan meningkatnya xenophobia dan diskriminasi terhadap mahasiswa internasional sejak mewabahnya Covid-19.

“Saat ini, tinggal di Bay Area sebagai mahasiswa internasional sangat sulit. Kami sekarang, lebih dari sebelumnya, harus menghadapi diskriminasi dan rasisme, ”kata Jesslyn.

Ia mengatakan mereka berisiko mendapat penghinaan di jalan dan dituduh sebagai pembawa virus.

“Orang-orang akan menghina Anda dan berbicara tentang Anda di jalan, menuduh Anda membawa virus ke sini. Kami harus menghadapi semua kebencian ini dari orang tak dikenal dan anonim yang belum pernah kami temui sebelumnya.“

Jesslyn menceritakan pengalaman saudara perempuannya, yang juga tinggal di Bay Area. Saudaranya tersebut dilecehkan secara rasial ketika melakukan jogging cepat di Ocean Beach beberapa waktu setelah pemberitaan tentang pandemi Covid 19 muncul.

Seperti dirinya, Jesslyn mengakui tengah menghadapi masalah kompleks dalam merumuskan masa depannya. Ia terpaksa harus keluar dari perumahan mahasiswa di kampus USF karena pandemi Covid 19. Ia juga mengakui harus mengubur cita-citanya untuk bekerja di Amerika Serikat setelah lulus karena keadaan yang sudah berubah dan akan pulang ke Indonesia pada Mei ini setelah lulus.

“Tidak mungkin untuk mendapatkan panggilan kembali (setelah wawancara kerja) di tengah pandemi ini, apalagi untuk disetujui mengikuti Pelatihan Praktik Opsional (Optional Practical Training/OPT) ,” kata Jesslyn.(*/riel)

Pos terkait