INFOSULSEL.COM, MAKASSAR – Warga kota Makassar kembali dibuat geger dengan kasus pengambilan jenazah pasien Covid-19 di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Daya Makassar. Apalagi ada peran anggota DPRD Makassar sebagai penjamin.
Kejadian yang berlangsung Sabtu (27/6/2020) lalu itu ber buntut. Kepala RSUD Daya terpaksa dicopot oleh Pj Walikota Makassar, Rudy Djamaluddin.
Sikap politisi Partai Keadilan Sejahtera, Andi Hadi Ibrahim itu disorot oleh Direktur Komisi Pemantau Legislatif (Kopel) Indonesia, Anwar Razak. Menurut dia, seorang anggota dewan seharusnya membangun kepercayaan publik agar tidak lagi terjadi pengambilan jenazah berstatus PDP di rumah sakit.
“Kita tidak bisa menyalahkan masyarakat. Karena masyarakat yang mengambil jenazah itu tidak percaya lagi ke pemerntah. Selama ini kalau kita lihat baik gubernur dan walikota saling bertentangan dan tidak meyakinkan publik karena DPRD tidak hadir mengoreksi,” katanya.
Anwar menuding tindakan nekad yang dilakukan politisi PKS, Hadi Ibram Baso dinilai berkontribusi membangun ketidakpercayaan publik terhadap pemerintah dan tenaga kesehatan.
“Saya melihat juga ada anggota DPRD yang berkontribusi membangun ketidakpercayaan publik terhadap pemerintah dan juga tenaga kesehatan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Anwar mengatakan potensi jeratan hukum kepada Hadi Ibrahim akan dikembalikan kepada pihak yang berwenang.
“Itu hak kesehatan karantina, tapi sekarang pemerintah juga tidak menggunakan UU Kesehatan sebagai acuan untuk menyelenggarakan PSBB ataukah protokol kesehatan. Akhirnya tidak ada dasar hukumnya kemudian membawa kejalur hukum,” katanya.
Sementara, legislator dari fraksi PKS Hadi Ibrahim Baso yang coba dikonfirmasi sepertinya enggan ditemui oleh wartawan. Anwar, salah seorang staf fraksi PKS mengatakan, bila ingin bertemu dengan yang bersangkutan terlebih dahulu membuat janji pertemuan.
“Sudahki janjian? Harus paki janjian itu baru bisa ketemu sama beliau,” ujarnya di ruang fraksi PKS gedung DPRD Makassar, Rabu (1/7/2020).
Wartawan INFOSULSEL.COM yang coba menghubungi Hadi Ibfrahim via WhatsApp, sedang tidak aktif.(andi/riel)





