Ribuan Pekerja THM Akan Turun ke Jalan

INFOSULSEL.COM, MAKASSAR— Ribuan pekerja tempat hiburan di Makassar akan turun ke jalan. Ancaman penutupan kembali THM oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar jadi penyebabnya.

Ketua Badan Pengurus Asosiasi Usaha Hiburan Makassar (AUHM) Zulkaraen Ali Naru mengatakan ancaman yang lontarkan Asisten 1 Pemkot Makassar yang juga Ketua Satgas Penegakan Disiplin Gugus Tugas COVID-19 Makassar, M Sabri sebuah bentuk arogansi seorang pejabat.

Bacaan Lainnya

“Sebaiknya Sabri tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Dia juga harus pikirkan orang banyak. Hampir enam bulan ribuan karyawan THM tidak punya penghasilan karena tempat mereka bekerja ditutup,” cetus Zul, sapaannya pada sesi jumpa pers, Selasa (11/8/2020).

Hal senada ditegaskan Ketua Asosiasi Refleksi dan Kebugaran Makassar (ARKES) Usdar Nawawi. Menurutnya penutupan usaha industri pariwisata di Kota Makassar saat ini bukanlah solusi jika mengacu pada Perwali Kota Makassar Nomor 36 Tahun 2020.

“Pengusaha insdustri pariwisata di Makassar itu sangat patuh. Awal-awalnya pandemi malah kami yang memibta kepda para pengusaha dan mendesak Pemkot mengeluarkan edaran penutupan,” ungkap Usadar.

Tapi, lanjut dia, penutupan kembali usaha industri pariwisata saat ini sudah tidak memungkinkan lagi.

“Pemkot Makassar terlalu diakriminatif. Seharusnya Sabri tidak hanya lantang berteriak tutup tetapi dia juga harus secara jentelman untuk menyuarakan solusi,” pekik Usdar.

Sebagai seorang pamong senior Usdar yang juga seorang Wartawan senior ini menantang Sabri untuk memberikan kompensasi Rp 48 miliar setiap bulan.

“Kami siap tutup sampai kapanpun tapi dengan catatan Sabri selaku pejabat Pemkot Makassar memberikan kompenasi Rp 48 miliar setiap bulan untuk menghidupi ribuan pekerja di THM,” tegas Usdar.

Usdar dan Zul malah mengkritisi kinerja Sabri yang seolah seperti kacang lupa kulit.

“Ingat Pak, kontribusi PAD usaha industri pariwisata di Makassar cukup besar. Sabri dan seluruh pejabat di Pemkot Makasar juga merasakan keringat dari ribuan pekerja THM. Itu jangan dilupakan,” sambat Zul.

Untuk diketahui dari ribuan pekerja di sektor usaha industri pariwisata ada ribuan pekerja seni di dalamnya. Mereka juga bagian dari orang yang terdampak.

“Kami sudah hampir enam bulan dirumahkan tanpa penghasilan apa-apa. Sementara kami ini punya keluarga. Kami mau makan apa kalau terus-terusan begini. Hidup kami susah susah malah dibuat susah pula oleh pemerintah,” keluh Wawan salah satu dari komunitas keyboard yang sering mengisi acara di sejumlah THM di Makassar.

Wawan tidak sendiri. Ia menghidupi istri dan tiga anaknya yang ketiganya sudah bersekolah. Selama pandemi dan tempatnya bekerja ditutup Wawan tak mendapat penghasilan apa-apa.

“Untuk menutupi biaya hidup selama THM ditutup saya hidup dari berjualan. Satu persatu perabot dan alat musik saya jual demi menyambung hidup,” tutur Wawan.

Wawan tak sendiri. Ribuan pekerja seni lainnya juga bernasib sama.

“Kalau pejabat ma, enak. Mereka punya tunjangan jutaan rupiah. Dalam situasi apapun mereka hidup bergelimang harta. Ada uang APBD mereka nikmati. Kami wong cilik malah hidup makin terhimpit,” keluh Jaya, salah satu karyawan hotel asal kota Bandung, Jawa Barat, ini.

Wawan, Jaya dan ribuan pekerja seni yang sehari-hari hidup di usaha industri pariwisata berharap Sabri dan pejabat Pemkot Makassar lainnya khususnya Penjabat Walikota memberi solusi bukan janji.

Karena itu untuk menyalurkan aspirasi mereka, Kamis (13/8/2020) ribuan pekerja THM akan turun ke jalan.

“Kami turun ke jalan bukan untuk menantang kebijakan Pemkot Makassar tapi sebagai warga negara Indonesia, kami juga punya hak untuk menyuarakan aspirasi kami,” katanya.(riel)

Pos terkait