INFOSULSEL.COM, MAKASSAR – Aksi pengusiran terhadap salah satu pejabat oleh Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah, beberapa waktu lalu masih terus menjadi perbicangan menarik di berbagai kalangan.
Diketahui, Nurdin Abdullah mengusir seorang pejabat yang disinyalir tidak memperhatikan arahannya karena tengah memainkan handphone. Peristiwa itu terjadi usai acara pelantikan pejabat eselon II, III dan IV lingkup Dinas Provinsi Sulsel, beberapa waktu lalu.
Sikap yang dianggap tidak seperti biasa dilakukan oleh Nurdin Abdullah itu membuat banyak orang mencari tahu penyebab sesungguhnya di balik peristiwa tersebut. Nurdin Abdullah diketahui pernah menjabat sebagai Bupati Bantaeng dua periode (2008-2018), lalu saat ini sebagai Gubernur Sulsel yang telah memasuki tahun ke dua.
Kacamata Pskilogi
Salah satu Dosen Psikologi Politik Universitas Negeri Makassar (UNM) Muhammad Rhesa, S.Psi., M.A berpendapat bahwa fenomena itu didorong dari pengaruh posisi struktural atau yang disebut dengan otoritas tinggi.
“Saya kira dalam fenomena itu menunjukkan relasi yang Oteriter Rinking atau salah satu dalam pemilih relasi itu adalah memiliki Oteritas lebih tinggi. Tentu dalam hal ini gubernur berhak untuk memberikan intruksi itu, karena apa? Memberikan otoritas tinggi,” ungkap Muhammad Rhesa, Kamis (3/9/2020).
Lebih jauh, menurut Direktur Parametic Development Center ini, jika bisa ditelusuri lebih jauh, ada dua hal penyebab seorang pejabat mengusir pejabat lain yang di posisi lebih trendah saat dianggap melakukan kesalahan di forum resmi seperti ini.
“Sebenarnya kalau saya perhatikan sih, ada dua hal yang bisa menyebabkan orang menjadi marah dalam situasi forum itu, yang pertama adalah ketersinggungan secara pribadai atau personal, yang kedua karena posisinya, tapi saya melihat ini lebih kepada ketersinggungan atas perannya Nurdin Abdullah sebagai gubernur Sulawesi Selatan dalam posisi roteritasnya, bukan dalam posisinya secara personal,” kata Muhammad Rhesa.
“Itu kalau kita perhatikan dia (NA) menekankan kepada peran utama atau peran pegawai negeri sebagaimana mestinya, mereka baru diangkat pejabat misalnya di lingkungan pemerintahan. Karenanya, dari semua argumentasnya NA itu adalah argumentasi yang sipatnya propesional pekerjaan tidak ada yang menuju ke hal yang sipatnya personal, bisa jadi karena kebencian karena orang-orang tertentu misalnya, tapi saya tidak melihat itu,” sambungnya.
Hal yang Biasa
Muhammad Rhesa juga berasumsi bahwa kemarahan Nurdin Abdullah sepertinya sering dilakukan kepada bawahannya, hanya saja kejadian beberapa waktu lalu itu yang baru disaksikan banyak orang.
“Kemungkinan itu bisa terjadi, karena memang gubernur sekarang sedang melakukan evalusi kinerja terhadap para pemangku kebijakan yang dipercayakan oleh beliau, kita perhatikan karakter pengambilan keputusan beliau dalam hal Staffing para pengikutnya, gubernur Sulsel itu meperhatikan bukan hanya soal kapasitas tapi apakah yang bersangkutan diangkat jadi pimpinan atau pejabat pemerintahan itu bisa bekerja secara profesional tanpa afiliasi kesatu kelompok, misalnya kelompok politik yang kedua menganggap sepele misalnya tugas yang diberikan,” sambungnya.
“Hal lain yang saya perhatikan dalam fenomena itu juga Nurdin Abdullah memberikan penegasan bahwa seperti inilah contoh bawahan jika misalnya tidak mendengarkan intruksi gubernur, intruksi mimpinannya maka mesti bersiap untuk menerima konsekuesi,” tutupnya. (iksan)





