Survei terakhir IPI pada Agustus 2020 kemarin melibatkan 1.530 responden yang tersebar di 152 kelurahan di Makassar. Sample tersebut dipilih menggunakan metode multistage random sampling dengan margin of error +/- 2,5 persen.
“Survei kami pada Oktober 2019 dan Februari 2020 adalah survei perorangan. Survei simulasi pasangan kami mulai Juni 2020. Namun bukan dengan komposisi pasangan yang sekarang. Kecuali Appi-Rahman dan DILAN yang memang sejak Juni tidak pernah merubah pasangannya,” jelas Suwadi.
Dia memprediksi, ada dua hal yang mungkin terjadi pada Danny-Fatma (ADAMA). Pertama dan yang paling mungkin terjadi adalah surveinya stagnan. Atau kedua, terus turun tapi tidak lagi signifikan.
Sementara Appi-Rahman juga berpotensi mengalami dua hal sampai 9 Desember nanti. Pertama dan yang paling mungkin terjadi adalah naik namun tidak signifikan, atau kedua, bisa saja stagnan di angka yang sama.
“Sangat sulit bagi ADAMA untuk mengangkat kembali elektabilitasnya. Kecuali melakukan gerakan yang super -super massif dan efektif. Sementara Appi-Rahman akan sulit diturunkan tingkat elektoralnya kecuali pasangan ini melakukan blunder politik yang besar seperti tersangkut kasus atau skandal,” sebut Suwadi.
Tanpa bermaksud mengkerdilkan calon lain, Suhandi memprediksi berdasarkan data ilmiah kursi pemenang Pilwalkot Makassar cenderung hanya akan diperebutkan antara pasangan APPI-Rahman dan Danny-Fatma.(riel)






