Penghasilan Menengah Kecil, Indonesia Masuk 10 Besar Negara dengan Hutang Terbanyak

  • Whatsapp
Uang (IST)

INFOSULSEL.COM, MAKASSAR – Indoneisa masuk dalam kategori negara dengan penghasilan menengah kecil. Kategori ini harusnya membuat Indoneisa lebih hati-hati dalam melakukan pinjaman hutang internasional.

Bank Dunia (World Bank) meriilis jika Indonesia masuk dalam 10 besar negara dengan hutang terbanyak di dunia. Ini dilaporkan Bank Dunia dalam acara bertajuk International Debt Statistics (IDS) 2021 beberapa waktu lalu.

Muat Lebih

Dalam laporan setebal 194 halaman merinci htang sejumlah negara-negara yang paling teratas berhutang dengan konidisi penghasilan menengah kecil selama tahun 2019, termasuk Indonesia.

Dikutip dari Liputan6.com, Rabu (21/10/2020), Bank Dunia Catat Utang Indonesia Rp 5.889 Triliun, Dalam laporannya, Presiden Bank Dunia Group David Malpass menunjukkan bahwa hampir setengah dari negara berpenghasilan rendah berada dalam posisi sulit dan berisiko tinggi untuk membayar hutang.

“Memiliki beban utang berpotensi menyedot sumber daya yang dibutuhkan negara-negara ini unuk bisa mendanai krisis kesehatan dan mempercepat upaya pemulihan ekonomi,” ujar dia dalam laporannya.

Laporan Bank Dunia menguak jika Indonesia termasuk ke dalam 10 negara berpendapatan kecil-menengah dengan jumlah utang luar negeri terbesar pada 2019.

Tepatnya, Indonesia berada pada posisi ke-6 (daftar tanpa memasukkan China) dengan total utang USD 402,08 miliar atau sekitar Rp 5.907 triliun (kurs Rp 14.693 per USD) di 2019. Terdiri dari utang jangka panjang USD 354,5 miliar dan jangka pendek USD 44,799 miliar.

Adapun utang Indonesia kembali naik di 2020. Bank Indonesia (BI) melaporkan jika hingga Agustus 2020, Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia meningkat menjadi USD 413,4 miliar, atau sekitar Rp 6.074 triliun.

Jumlah tersebut terdiri dari ULN sektor publik (Pemerintah dan Bank Sentral) sebesar USD 203,0 miliar, dan ULN sektor swasta (termasuk BUMN) sebesar USD 210,4 miliar.

“Pertumbuhan ULN Indonesia pada Agustus 2020 tercatat 5,7 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 4,2 persen (yoy), disebabkan oleh transaksi penarikan neto ULN, baik ULN Pemerintah maupun swasta,” ujar Kepala Departemen Komunikasi BI, Onny Widjanarko. (nw)

Pos terkait