Survei ADAMA Teratas, Begini Tanggapan Pengamat

INFOSULSEL.COM, MAKASSAR – Paslon nomor urut 1 Mohammad Ramdhan Pomanto – Fatmawati Rusdi kian tak terbendung. Dua survei resmi yang baru-baru ini dirilis mengunggulkan Paslon berjargon ADAMA.

Dengan presentase diatas 40 persen. Hasil survei tersebut cukup jauh dari 3 saingan beratnya, yakni Munafri Arifuddin-Abdul Rahman Bando (Appi-Rahman), Syamsu Rizal MI-Fadli Ananda (DILAN), dan Irman Yasin Limpo-Andi Zunnun Armin NH (IMUN).

Bacaan Lainnya

Praktis, pasangan ADAMA yang diusung oleh Partai Gerindra dan NasDem diprediksi bakal melangkah mulus pada Pemilihan 9 Desember mendatang. Namun, berbagai cara tentunya akan dilakukan oleh 3 rivalnya untuk menurunkan elektabilitas Danny-Fatma, baik itu melalui kampanye hitam dan sejenisnya.

Pengamat Politik Universitas Hasanuddin (Unhas), Andi Lukman Irwan mengatakan, elektabilitas Danny-Fatma sudah punya saham sosial secara elektoral. Sehingga, dari sisi tingkat keterpilihan publik kerap disukai oleh masyarakat untuk saat ini, salah satunya kelompok masyarakat yang bermukim dilorong.

“Kemudian dengan tingkat elektabilitas yang menjamin memang ada kelompok politik, pastinya akan berupaya ingin merebut elektabilitas itu kemudian mencari cara bagaimana Danny-Fatma ini bisa keluar dari kontestasi pilwali dengan sejumlah dugaan pelanggaran,” katanya, Rabu (28/10/2020).

Mengingat, program pembenahan lorong oleh Mantan Wali Kota Makassar itu telah dinikmati oleh masyarakat kala menjabat pada periode 2013-2018. Meskipun demikian, lanjut Lukman, Danny-Fatma tetap berhati-hati menahan gempuran kandidat lain untuk mendegradasikan suara ADAMA.

Jika tidak diantisipasi atau mudah terpancing berimbas pada potensi pelanggaran ketentuan. Olehnya, Danny-Fatma harus mampu mendisiplinkan timnya, agar tidak ada tindakan yang memberikan dampak negatif.

“Masyarakat kota makasar ini masyarakat yang cerdas. Masyarakat ini sudah mampu menilai dan justru kadang tindakan-tindakan yang sifatnya destruktif (merusak) atau bar-bar yang seperti itu, memberikan efek negatif bagi paslon Danny-Fatma,” terangnya.

Bila Danny-Fatma tidak terpancing dengan tindakan yang destruktif, maka praktis menunjukkan kematangan dalam politiknya.

“Tetap dingin menghadapi segala tuduhan dan rintangan itu pada posisi itu justru menaikkan popolaritas dan elektabilitasnya Danny-Fatma,” pungkasnya.

Sementara itu, Pengamat Politik Unhas Sukri Tamma menuturkan jika posisi Danny-Fatma berada dipuncak menggambarkan dua hal. Pertama, kerja tim ADAMA dinilai sukses dan diapresiasi oleh masyarakat dibandingkan kinerja tim lainnya.

“Dengan demikian, jika kandidat lain ingin menyaingi kondisi tersebut maka hasil survey ini seharusnya menjadi bahan evaluasi pada kinerja yang sudah dilakukan sejauh ini oleh kandidat lainnya,” tuturnya.

Selain itu, kinerja tim ADAMA dinilai maksimal sehingga persaingan diletakkan pada kemampuan untuk meningkatkan tingkat keterpilihan mereka dihadapan masyarakat.

“Hal ini biasanya dilakukan dengan melakukan kampanye yang memungkinkan masyarakat tidak hanya melihat aspek yang baik dari kandidat tersebut. Namun juga ada informasi yang menunjukkan sisi lainnya yang akan berefek pada turunnya tingkat kepercayaan dan dukungan masyarakat terhadap kandidat tersebut,” tutupnya.

Sebelumnya, Celebes Research Center merilis hasil surveinya, pasangan Moh Ramdhan Pomanto-Fatmawati Rusdi (ADAMA) berada di posisi teratas, sebesar 40,4%. Kemudian disusul Munafri Arifuddin-Abdul Rahman Bando (Appi-Rahman) 23,5%, Syamsu Rizal-Fadli Ananda (DILAN) 14,0%, dan Irman Yasin Limpo-Andi Zunnun (IMUN) 6,5%.

Selain CRC, lembaga Saeful Mujani Research Consultan (SMRC) juga mengunggulkan pasangan ADAMA dengan perolehan tingkat elektabilitas 41,9 persen.

Sementara, Munafri Arifuddin-Rahman Bando (Appi-ARB) dan Syamsu Rizal-Fadli (Dilan) bersaing ketat di posisi kedua. Selisihnya terpaut tipis, Appi-Rahman 17,8 persen dan Dilan 16,6 persen.

Di posisi ke empat atau terakhir ditempati Irman Yasin Limpo-Andi Zunnun NH (None), 6,8 persen. Tidak menjawab atau tidak tahu, tercatat ada 16,9 persen. (ani/andi)

Pos terkait