Menangani Olah Raga Baru tapi Bukan Orang Baru
OLAHRAGA pentathlon di Indonesia memang tergolong baru. Sebelumnya, olahraga ini hanya tumbuh di komunitas-komunitas dan belum memiliki payung organisasi pusat. Baru pada tahun 2015 lahir organisasi yang memayungi olahraga Pentathlon di bawah bendera PP MPI. Mengingat usianya masih seumur jagung, maka masih belum banyak pengurus-pengurus MPI yang terbentuk di daerah.
Bagi Diza Ali, menangani olahraga bukan dunia baru baginya. Ibu kandung mantan Ketua KNPI Kota Makassar Cristhoper ‘Rio’ Aviary ini bahkan pernah menjadi manajer perempuan pertama klub sepakbola di Indonesia bersama Persija Jakarta. Ia juga pernah memanajeri PSM Makassar musim kompetisi 2008 silam bersama kakak dan adik kandungnya, Reza Ali dan Adi Rasyid Ali.
Tidak hanya itu. Ibu dua anak ini juga menjadi owner Makassar Football School (MFC) 2000 Makassar. Di tangan perempuan berusia 50-an tahun ini, ia banyak melahirkan pemain-pemain hebat. Di antaranya Syamsul Chaeruddin, Hamka Hamzah, Zulkifli Syukur, Rasyid Bakri dan lainnya.
Berkat tangan dingin Diza pula sekolah bola yang pernah bermarkas di Lapangan Karebosi ini beberapa kali mewakili Indonesia di kejuaraan sepakbola tingkat dunia. Tidak hanya sekadar menjadi penggembira. MFS 2000 bahkan beberapa kali mengukir prestasi di benua Eropa pada kejuaran sepakbola kelompok usia dini. Salah satunya kejuaraan dunia Danone di Prancis.
Di turnamen itu salah satu anak didiknya yakni Irfin Museng, bahkan menjadi top scorer yang hingga tahun 2019 koleksi bolanya belum tersaingi yakni 11 gol.




