Prestasi serupa terakhir diukir atlet asal Sulsel 32 tahun lalu melalui Kusumawardani. Stlet panahan tersebut meraih medali perak pada Olimpiade Soul 1988 silam.
Prestasi Kusumawardani yang saat itu berusia 33 tahun diulang oleh Rahmat yang usianya masih terbilang muda, 20 tahun.
Usia Rahmat masih muda. Prestasinya pun mentereng. Tentu ini tantangan bagi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel dan KONI Sulsel untuk membentengi atletnya agar tidak ‘dibajak’ oleh daerah lain.
Atlet kelahiran Makassar 13 Oktober 2000 ini turun di kelas 73 kg. Total angkatan Rahmat Erwin mencapai 342 kg. Dicetak dari 152 kg di angkatan snatch, dan 190 kg (clean & jerk). Putra semata wayang pasangan Erwin Abdullah yang juga menjadi pelatih Rahmat dan Ami Asun Budiono ini hanya kalah dari Shi Ziyong (China, 364 kg) dan Julio Mayora (Venezuela, 346 kg).
Keberhasilan Rahmat Erwin merebut medali sebenarnya jauh dari perkiraan. Sebab, di starting list saja ia hanya ditaruh di Grup B bersaing dengan empat lifter lain. Hal itu karena Rahmat hanya berani mengangkat total beban 320 kg. Namun, ketika berada di venue yang berada di Tokyo International Forum, Rahmat berhasil mengangkat total 342 kg.
Bahkan, total angkatan 190 kg di clean & jerk, sempat menempatkannya di urutan teratas, sebelum dikalahkan Shi Ziyong (198 kg). Satu hal yang pasti, keberhasilan Rahmat Erwin terhitung luar biasa.
Hal itu karena Olimpiade Tokyo 2020 merupakan kesempatan pertamanya turun di multievent empat tahunan tersebut. Meski baru pertama kali, lifter peraih medali emas SEA Games 2019 ini sanggup meraih medali dan membuat bangga rakyat Indonesia.(riel)






