Wacana Kritis, Dosen FS UMI Kaji Agenda Tersembunyi dalam Iklan Seluler

ILUSTRASI
Dr. Emma Bazergan M.Hum

INFOSULSEL.COM, MAKASSAR – Dosen Fakultas Sastra (FS) Universitas Muslim Indonesia Dr. Emma Bazergan, M.Hum mendalami analisis wacana kritis dalam risetnya bertajuk ‘Agenda Tersembunyi dalam Bahasa Iklan Seluluer’.

Dalam keterangan resminya, Akademisi UMI ini mengungkapkan, kajian ini membahas tentang fenomena The hidden agenda dalam bahasa iklan Seluler dalam mendeskripsikan bentuk dan makna di baliknya serta faktor sosial yang ditimbulkan.

Bacaan Lainnya

“Objek penelitian adalah iklan seluler di Makassar yang telah diperkenalkan di media baik visual maupun non visual,” kata Emma Bazergan, Senin (11/4/2022).

Masalah dalam penelitian ini kata Dosen Senior FS UMI itu, adalah bagaimanakah makna dan struktur bahasa iklan seluler serta visual atau non-visual.

“Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dalam memperkenalkan teori sosial Bourdieu terhadap pendekatan CDA Nourman Fairlough yang menyatakan perspektif baru dari kedua belah pihak,” tuturnya.

Hasil penelitian menunjukkan disimpulkan bahwa eufemisasi bekerja atas dasar: 1) kebutuhan dan 2) kebaikan. Kepercayaan, kewajiban, dan kemauan merupakan bentuk eufemisasi yang dibuat atas dasar kebutuhan.

“Mekanismenya bekerja dengan menciptakan situasi kognitif bagi subjek dalam keadaan tidak ada pilihan. Eufemisasi dalam bentuk sopan santun, jasa, dan kasih sayang bekerja tanpa disadari untuk menciptakan kesan kebaikan,” tutupnya.

Ia menjelaskan, seluler merupakan kebutuhan kita saat ini. Berbagai jenis layanan seluler oleh penyedia layanan telah hadir di seluruh wilayah Indonesia. Memang media kampanye untuk meyakinkan pengguna ponsel telah menjadi semacam perlombaan dalam proses penyampaian sesuatu yang dilakukan melalui media ke dalam kepraktisan hidup.

“Dengan peluang jaringan seperti itu, penyedia layanan perusahaan menawarkan berbagai keuntungan dalam mencari pelanggan mereka. Namun, bahasa yang digunakan dalam iklan di media elektronik seringkali tidak sesuai dengan kaidah tata bahasa yang baik dan benar,” imbuhnya.

Dengan bahasa, produsen wacana dapat menciptakan citra kepada khalayak sebagai sosok yang paling baik, benar, atau paling berkuasa. Dengan wacana interaksi tersebut dapat diklasifikasikan sebagai suatu tingkatan analisis makna sebagai model tiga dimensi yang dapat mencakup teks tertulis sebagai struktur mikro (proses produksi) yang dapat menggambarkan suatu representasi teks.

Kedua, mesostruktur (interpretasi proses) yang berfokus pada dua aspek produksi teks dan konsumsi teks. Dan sebuah makrostruktur (proses wacana) yaitu fenomena di mana teks itu dibuat. Semua itu bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara bentuk, makna, dan ideologi yang memiliki muatan untuk mendominasi mekanisme bahasa dan kekuasaan. (*)

Pos terkait