Sepak Takraw Cabor Andalan Sulsel dan IndonesiaUntuk diketahui Sepak Takraw
Sepak Takraw merupakan salah satu cabor andalan Sulsel. Prestasinya di pentas nasional dan dunia cukup mentereng. Seperti halnya cabor karate. Pada PON XX di Papua 2021 lalu, atlet sepak takraw Sulsel mampu mengawinkan medali emas di nomor putra dan putri.
Selain itu timnas sepak takraw Indonesia yang didominasi atlet asal Sulsel juga mampu mendulang lima medali kejuaraan dunia Kings Cup World Championship Juli 2022 lalu di Bangkok, Thailand. Untuk diketahui pula Timnas ini juga dimanajeri oleh tokoh olahraga asal Sulsel H Surianto yang saat yang saat dilantik sebagai ketua Pengprov PSTI Sulsel tidak dihadiri oleh Ketua KONI Sulsel Yasir Machmud.
Sebelumnya, pada Mei 2022 lalu atlet sepak takraw Indonesia yang lagi-lagi didominasi atlet asal Sulsel juga mampu mengibarkan bendera merah putih setelah meraih medali emas dari nomor nomor double event putra SEA Games 2022 di Hoang Mai Gymnasium, Vietnam .
Tiga pahlawan yang turun dalam nomor tersebut yakni, Saiful Rijal, Muhammad Ardiansyah Muliang dan Jelki Ladada. Selain emas Indonesia juga Sepak mendapat medali perunggu pada nomor beregu putra.
Untuk persiapan SEA Games 2023 saat ini ada enam atlet Sulsel kembali dipercaya masuk tim nasional. Mereka kini tengah menjali Pelatnas. Masing-masing empat atlet putra yakni Hardiansyah Muliang, Rusdi, A. Tri Sandi Saputra an Diky Apriady. Sementara putri dua oramng, Kusnelia dan Fujy Angriani Lestari. Termasuk H Surianto. Juga kembali dipercayakan menjadi manajer timnas Indonesia. Pada SEA Games mendatang ia kembali menargetkan medali emas untuk Indonesia.
Prestasi atlet sepak takraw Sulsel cukup dihormati dan disegani. Tidak hanya nasional. Bahkan di dunia internasional. Namun sayang, justeru di rumah sendiri mereka tidak direken. Ironisnya dilakukan oleh pengurus KONI Sulsel yang nota bene adalah induk dari seluruh induk cabang olahraga.
Selama terpilih jadi Ketua KONI Sulsel 25 Maret 2022 dan dilantik 10 Agustus 2022 lalu Yasir belum mampu mewujudkan sinergitas dengan para pengurus cabor. Termasuk janjinya meninggalkan cara-cara klasik dengan mempertahankan faksi-faksi status status quo, pun diingkari.
Bahkan visinya mewujudkan KONI Sulsel sebagai rumah olahraga yang harmoni, selektif dan inovatif serta menjadikan KONI Sulsel sebagai rumah besar olahraga, pun belum mampu diwujudkan. Bahkan kantor KONI Sulsel tidak sejuk untuk dijadikan rumah besar bagi cabor.
‘’Menjadikan KONI ibarat rumah yang nyaman, tempat berteduh bagi pekerja olahraga, menyiapkan kebutuhan sandang, pangan dan papan para atlet melalui cabor dan tempat yang sejuk untuk berdedikasi,” begitu janji Yasir dengan semangatnya saat pemaparan visi misinya usai terpilih.
Target 5 besar nasional yang selama ini digaungkan bakal menjadi mision imposible. Mengapa tidak. Apalagi dana hibah yang hanya Rp 5 miliar dinilai sangat minim untuk membiayai kebutuhan puluhan cabor demi mengejar terget tesebut.
‘’Bagaimana mau capai target 5 besar kalau anggaran minim. Pasang target itu realistis. Harus jelas. Jangan asal teriak,’’ pekik sejumlah pengurus cabor saat diskusi akhir tahun beberapa waktu lalu.(ariel)






