Hamsyiah Faisal, Wasit Tinju Perempuan dari Sulsel

Hamsyiah Faisal saat memimpin pertandingan di PON XIX jawa Barat September 2017.

INFOSULSEL.com, MAKASSAR— Perempuan, identik dengan kelembutan dan keanggunan. Berkarir pun demikian. Lapangan pekerjaan untuk perempuan biasanya tidak bernuansa kekerasan dan tempaan lapangan. Di era sekarang, tidak lagi demikian. Perempuan semakin menunjukkan kapasitasnya dalam berkarier. Termasuk di wilayah profesi yang mayoritas digeluti oleh laki-laki. 

Hamsyiah Faisal berbincang santai dengan Sekjen PP Pertina, Shelly Selowati HS Miranda.(foto: ril)

Hamsyiah Faisal, misalnya.  Ia salah satu dari perempuan tangguh yang eksis di profesi yang tak lasim digeluti oleh kaum hawa, yakni menjadi tinju. Perempuan tangguh ini malah kini menjadi hakim dan wasit tinju nasional pertama di Sulawesi Selatan.

Di luar ring tinju, ia melakoni pekerjaan seperti ibu rumahtangga lainnya. Hamsyiah tak pernah melupakan kodratnya sebagai seorang perempuan. Pekerjaan rumahtangga, ia lakoni sehari-hari seperti layaknya ibu rumahtangga lainnya.

Sepintas orang yang belum mengenalinya tak menyangka wanita ini seorang wasit tinju. Selain murah senyum, istri dari Moch Faisal Bahcrun ini sangat ramah kepada siapapun.  tapi, sikapnya sangat kontras jika berada di atas ring. Tegas dan berwibawa.

‘’Tegas dalam memimpin, adalah hal yang wajib dilakukan oleh seorang wasit. Tidak ada bedanya, perempuan atau laki-laki. Semua sama. Begitu juga saat menjadi hakim, kita harus netral. Tak berpihak kepada siapapun. Sebab esensi dalam berolahraga adalah kejujuran. Fair play harus dijunjung tingi,” tegas Bunda, begitu ia kerap disapa.

Mungkin karena sikap ramah, supel serta murah senyum itulah tak ada yang menyangka jika nenek empat cucu ini sudah memasuki usai 50 tahun.  Hamsyiah adalah sedikit wasit perempuan berlevel nasional di Indonesia. Ia bahkan satu-satunya wasit perempuan yang dimiliki Pengprov Pertina Sulawesi Selatan saat ini.

Saat memimpin salah satu partai di sebuah event nasional.

Bagi wanita kelahiran 10 juli 1968 ini, berprofesi sebagai wasit  tinju merupakan kebanggan tersendiri. ‘’Bangga karena hanya sedikit perempuan yang mau menekuni profesi ini,’’ ujarnya.

Karena cintanya, Hamsyiah tak menyadari kalau profesinya itu sudah ia geluti lebih dari 20 tahun. “Pertama naik ring 26 tahun lalu. Ketika itu saya masih lajang. Sudah cukup lama,” kenang Bunda.

Menekuni profesi itu bukan tanpa alasan. ‘’Saya bukan berlatar belakang atlet tinju. Tapi saya suka dengan olahraga ini. Olahraga tinju itu punya seni.  Sikap sportifitas pun sangat  dikedepankan.  Di atas ring atlet bisa baku pukul, demi sebuah prestasi. Bahkan sampai berdarah-darah. Malah terkadang ada yang roboh. Tapi setelah itu mereka bersalaman dan berangkulan. Tak ada dendam. Itulah bagian dari sikap sportif  dari olahraga tinju,” jelas ibu dari dua atlet tinju Sulsel yang hengkang memperkuat Kaltim di PON XIX 2016, Jawa Barat ini.

Selain itu sikap sportifitas yang sangat kental yakni atlet tinju hanya bisa bertanding sesuai  berat badan atlet. ‘’Karena itu di dunia tinju ada banyak kelas yang dipertandingkan,’’ katanya.

Karena cintanya dengan olahraga yang identik dengan olahraga laki-laki ini Hamsyiah juga menemukan tambatan hatinya di arena tinju 29 tahun silam. ‘’Suami saya itu mantan atlet. Ketemunya juga di arena tinju. Sekarang, dua dari tiga anak saya juga jadi atlet tinju, Indra Faisal dan Irma Putri Faisal,” katanya.

Dari hasil pernikahannya dengan mantan atlet yang kini juga menjadi wasit dan hakim tinju nasional, Moch Faisal Bachrun mereka dikaruniai tiga anak. Dua diantaranya , Indra Faisal dan Irma Putri Faisalmengikuti jejak ayahnya menjadi petinju.

Sayangnya di Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX Jawa Barat September 2016 keduanya  tidak membela Sulsel melainkan Kalimantan Timur (Kaltim). Penyebabnya, pembinaan di masa kepengurusan Pertina Sulsel yang lalu tidak jelas.  Ada sekat antara kelompok satu dan lainnya.  Sejumlah pengurus, wasit dan hakim dipecat tanpa sebab. Pembinaan Atlet tidak berjalan. karena itu banyak atlet tinju Sulsel terpaksa hijrah ke daerah lain.

Kini Pengurus Provinsi (Pengprov) Pertina Sulsel telah berganti nakhoda. Ketuanya,  Adi Rasyid Ali. Di mata Hamsyiah ARA, sapaan Adi Rasyid Ali merupakan sosok pemimpin yang bersahaja dan seorang visioner.  ‘’Enak diajak ngobrol dan mau menerima saran. Visi Pak ARA juga jelas memang ingin memajukan tinju. Seperti juga kakaknya Resa Ali yang pernah menjadi ketua PP Pertina,” tutur Hamsyiah.

Seluruh pengurus, wasit, hakim, para atlet dan semua insan tinju di Sulsel, bahkan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Pengurus Pusat Pertina, Shelly Selowati HS Miranda sangat optimis di tangan ARA prestasi tinju Sulsel akan jauh lebih maju dibanding periode kepengurusan yang lalu.

Kalau di internal organisasinya sehat, pasti prestasi akan hebat.  Para atlet berlatih tanpa beban, karena tujuannya jelas, prestasi. Begitu juga para pelatih bisa melatih dengan tenang tanpa ada beban akibat konflik yang dibuat sendiri oleh internal pengurus. Seperti yang terjadi pada kepengurusan yang lalu.

‘’Di tangan ARA, Pertina Sulsel Jaya….!!!” teriak Hamsyiah.(sri syahril)

 

Pos terkait