MASYARAKAT etnis Rohingya tak pernah hidup tenang di Myanmar. Kehidupan mereka terus diusik. Mereka dibantai secara keji. Rumah-rumah mereka dibakar. Banyak wanita muda dan ibu-ibu diperkosa lalu dibunuh. Anak bayi pun ditembaki saat menangis menyaksikan ibunya diperkosa oleh militer. Lalu, apa sesungguhnya yang terjadi terhadap etnis Rohingya? Berikut tulisan bersambung yang disadur dari berbagai sumber oleh INFOSULSEL.COM.
****

INFOSULSEL.COM — SETELAH Misi Pencari Fakta PBB melakukan penyelidikan, sebuah laporan PBB awal tahun ini membeberkan rinci pelanggaran HAM oleh balatentara Jenderal Min Aung Hlaing terhadap Rohingya.
Pelanggaran-pelanggaran itu antara lain: tentara Min Aung Hlaing memberi stempel pada bayi saat bayi itu baru lahir. Membunuh bayi yang menangis karena haus ketika mereka memerkosa ibu si bayi. Menembak anak-anak dari belakang saat bocah-bocah itu lari dari desa mereka yang terbakar.
Jenderal Min Aung Hlaing dianggap sebagai hambatan terbesar bagi Myanmar. Mimpi memperbaiki HAM, melakukan reformasi demokratis, dan mewujudkan kedamaian, seolah terbang terbawa angin.
“Revolusi demokrasi Myanmar gagal total. Kini kami malah memiliki ‘Neo-Nazisme’,” kata Kyaw Win.
Pegawai negeri di bawah kendali Min Aung Hlaing, menurut Farmaner dalam tulisannya di Hufftington Post reformasi dan kebijakan buatan pemerintah (baca: Suu Kyi). Sang jenderal pula yang menyandera dana kesehatan dan pendidikan negara dengan berkeras memperoleh alokasi anggaran besar untuk militer.
Maka, modernisasi negeri, peningkatan pendidikan bagi rakyat, dan pelayanan kesehatan layak, masih mimpi bagi rakyat Myanmar.
Bukan itu saja, Min Aung Hlaing juga mengancam keseluruhan proses perdamaian dengan menekankan pada sikap garis keras yang tak dapat diterima oleh banyak organisasi etnis. Namun, entah bagaimana, ia kerap lolos dari sorotan internasional dan kritik langsung dunia.
Pada krisis Rohingya tahun lalu, juga tahun ini tentunya, adalah Suu Kyi yang paling banyak disorot dan dicaci, bukan Jenderal Min Aung Hlaing yang punya tongkat komando atas tentaranya yang kalap membasmi Rohingya. (Bersambung)
Penulis : Aril





