MASYARAKAT etnis Rohingya tak pernah hidup tenang di Myanmar. Kehidupan mereka terus diusik. Mereka dibantai secara keji. Rumah-rumah mereka dibakar. Banyak wanita muda dan ibu-ibu diperkosa lalu dibunuh. Anak bayi pun ditembaki saat menangis menyaksikan ibunya diperkosa oleh militer. Lalu, apa sesungguhnya yang terjadi terhadap etnis Rohingya? Berikut tulisan bersambung yang disadur dari berbagai sumber oleh INFOSULSEL.COM.
****

INFOSULSEL.COM –MILITER Myanmar yang mengawali operasi perburuan militan Rohingya sebagai respons atas penyerangan kelompok pemberontak ARSA (Arakan Rohingya Salvation Army). Oleh pemerintah Myanmar mereka disebut teroris.
Ada 30 pos polisi dan sebuah pangkalan militer di Rakhine, negara bagian Myanmar, dibangun. Di sini menjadi tempat tinggal etnis Rohingya. Para militer menjadikan warga sipil Rohingya target.
Tak pandang bulu. Lelaki-perempuan, tua-muda, sepuh-bayi, semua jadi korban kebrutalan tentara Myanmar. Mereka ditembaki tanpa ampun. Ini menjadikan operasi perburuan pemberontak menjelma menjadi pembunuhan besar-besaran. Secara terencana terhadap suatu bangsa atau ras.
Jumlah korban sulit diperkirakan. Ini akibat penutupan akses media dan pengawas internasional menuju Rakhine.Namun berdasarkan data berbagai sumber terpercaya yang dikumpulkan dari lapangan, Burma Campaign UK meyakini korban tewas mencapai ratusan orang. Bahkan mungkin seribu lebih.
Sementara lebih dari 10.000 rumah ditaksir telah hancur rata dengan tanah. Kini, laporan-laporan baru yang masuk juga mulai menyebut munculnya aksi pemerkosaan, penyiksaan, dan berbagai pelanggaran hak asasi manusia (HAM) lainnya.
Serangan militer Myanmar terhadap Rohingya kali ini dinilai serupa dengan yang pernah mereka lakukan pada Oktober 2016. Namun dengan skala lebih besar dan koordinasi lebih terpadu untuk menghancurkan semua struktur masyarakat Rohingya.
Aksi militer Myanmar pada Oktober 2016 itu mengusik Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Kemudian menyimpulkan kejahatan terhadap kemanusiaan telah berpotensi terjadi. Dewan HAM PBB kemudian membentuk Misi Pencari Fakta untuk menyelidiki apa yang sesungguhnya terjadi di Rakhine. Juga Shan dan Kachin di mana militer juga menjadikan etnis sipil sebagai target.(Bersambung)
Penulis : Aril





