Min Aung Hlaing, Jendral Senior  di Balik Pembantaian Rohingya (4) Militer Berpengaruh Dalam Perpolitikan di Myanmar

MASYARAKAT etnis Rohingya tak pernah hidup tenang di Myanmar.  Kehidupan mereka terus diusik. Mereka dibantai secara keji. Rumah-rumah mereka dibakar. Banyak wanita muda dan ibu-ibu diperkosa lalu dibunuh. Anak bayi pun ditembaki saat menangis menyaksikan ibunya diperkosa oleh militer.  Lalu, apa sesungguhnya yang terjadi terhadap etnis Rohingya?  Berikut tulisan bersambung yang disadur dari berbagai sumber oleh INFOSULSEL.COM.   

****

Bacaan Lainnya
anak-anak-rohingya-di-depan-kamp-kamp-pengungsian-di-Rakhine.

INFOSULSEL.COM –– Pada November 2016, Suu Kyi membatalkan perjalanannya ke Indonesia. Ia  disebut-sebut khawatir dengan protes atas pendiriannya terhadap Rohingya. Tapi di sisi lain Min Aung Hlaing justru tenang-tenang saja. Ia malah  bepergian ke Eropa untuk menghadiri undangan pertemuan para komandan militer.

Dan nyatanya tak ada protes terhadapnya di Italia atau Belgia. Ketika tentaranya memerkosa dan membunuh Rohingya, dia melancong tanpa gangguan di Brussel dan Roma. Bahkan sempat bepesiar di kanal-kanal cantik Venesia, sebelum mengunjungi pabrik senjata terlepas dari penerapan embargo senjata Uni Eropa terhadap Myanmar.

Luar biasa, bukan? Betapa gambaran itu membuat Suu Kyi, seorang perempuan hebat penerima Nobel Perdamaian yang dahulu biasa bergaul di lingkungan internasional, kini menjadi seperti perempuan tua pencemas. Sedangkan rivalnya (militer)–yang sayangnya juga harus menjadi sahabatnya–malah dengan mudah bergaul luwes bak diplomat di Eropa.

Dunia, seperti kita tahu, selau menyimpan kejutan–yang sayangnya tak selalu menyenangkan. Dan ini sialnya terjadi pada Suu Kyi yang menerima beban harapan berlebih dari rakyat Myanmar–yang dulu mengidolakannya, bahkan dari seluruh dunia.

Tersandera. Itulah yang mungkin terjadi pada Suu Kyi. Pemerintahnya, sayangnya, tak dapat berbuat banyak tanpa militer.

Sejak partai Suu Kyi, NLD, dalam tahap membentuk pemerintahan pada Desember 2015, semua pihak menyadari dukungan militer–di negara yang selama berpuluh-puluh tahun diperintah militer–akan sangat krusial agar pemerintahan NLD dapat berjalan mulus.

Meski pemerintahan beralih ke sipil, namun tak ada yang meragukan fakta bahwa: militer Myanmar tetap sangat berpengaruh dalam perpolitikan. Salah satunya, tentu saja, terlihat dari penguasaan mereka atas parlemen–yang efektif “mengikat kaki” Suu Kyi. (Bersambung)

 

Penulis : Aril

Pos terkait