MASYARAKAT etnis Rohingya tak pernah hidup tenang di Myanmar. Kehidupan mereka terus diusik. Mereka dibantai secara keji. Rumah-rumah mereka dibakar. Banyak wanita muda dan ibu-ibu diperkosa lalu dibunuh. Anak bayi pun ditembaki saat menangis menyaksikan ibunya diperkosa oleh militer. Lalu, apa sesungguhnya yang terjadi terhadap etnis Rohingya? Berikut tulisan bersambung yang disadur dari berbagai sumber oleh
INFOSULSEL.COM.
****
INFOSULSEL.COM — HANYA ada satu jenderal yang bisa memerintahkan tentara untuk berhenti membantai orang-orang Rohingya dan membakari desa-desa mereka. Dia adalah Jenderal Senior Min Aung Hlaing, Panglima Militer Myanmar.
Tapi, jenderal itu tak mengakui keberadaan Rohingya. Bagi jenderal nomor 1 di Myanmar itu, Rohingya adalah imigran ilegal. Mereka dianggap orang-orang buangan tanpa kewarganegaraan. Padahal mereka sudah tinggal turun-temurun di negeri itu.
“Jenderal Min Aung Hlaing adalah orang yang memberi perintah untuk membunuh Rohingya. Aung San Suu Kyi mungkin ‘monster’, tapi tak ada apa-apanya dibanding dia,” kata Kyaw Win, Direktur Burma Human Rights Network seperti dikutip kumparan.
Secara de facto, Suu Kyi memang pemimpin Myanmar. Meski Undang-Undang Myanmar tak memperbolehkan dia menjabat sebagai presiden karena suaminya berkewarganegaraan Inggris. Tapi ia memegang sederet posisi strategis: Menteri Luar Negeri, Menteri Kantor Presiden, Menteri Tenaga Listrik dan Energi, serta Menteri Pendidikan.
Suu Kyi ialah Penasihat Negara Myanmar. Ia sesungguhnya mengendalikan presiden negeri itu. Htin Kyaw–yang naik ke tampuk pimpinan atas restunya dan partainya, Liga Nasional untuk Demokrasi (National League for Democracy; NLD) yang memenangi pemilu.
Namun dengan berbagai jabatan “mentereng” itu, bukan berarti Suu Kyi bisa menggenggam seisi negeri. Sebab parlemen dikuasai oleh militer, di bawah Komandan Militer Myanmar Jenderal Senior Min Aung Hlaing.
Kamis (31/8/2017) lalu, pegiat kemanusiaan mendesak komunitas internasional untuk memfokuskan tekanan pada sang Jenderal–sosok di balik pembantaian Rohingya.
“Hanya dia yang dapat menghentikan pembunuhan terhadap orang-orang Rohingya, dan sejak tentaranya memulai serangan baru akhir bulan ini, ia bahkan tidak menghadapi kritik atau tekanan langsung dari komunitas internasional,” kata Mark Farmaner, Direktur Burma Campaign Inggris, seperti dilansir situs resmi lembaganya, Burma Campaign UK. (Bersambung)
Penulis : Aril





