BEM Fakultas Hukum Unibos Sebut Polisi Melanggar HAM Berat

INFOSULSEL.COM, MAKASSAR – Ketua (Badan Eksekutif Mahasiswa) BEM Fakultas Hukum Universitas Bosowa (Unibos) Makassar, Rangga Cahyadi Maulida menyesalkan sikap arogan oknum polisi yang seenaknya main tembak.

Peristiwa yang terjadi di Jalan Urip Sumoharjo Jum’at (6/10/2017) sekitar pukul 03.00 WITA itu menyebabkan rekannya, sesama pengurus BEM, Muh Nur Parawansyah dan Ariyaldi Kamal harus jadi korban.

‘’Saya membenarkan salah satu kawan kami memang tidak memakai helm. Tetapi oknum kepolisian itu salah dalam mengambil keputusan. Apakah hanya karena tidak mengenakan helm atau tidak ingin diberhentikan pada saat diadang lantas kepolisian langsung main tembak?” tanya Rangga.

Apalagi, katanya,  sebelum kejadian pihak kepolisian tidak pernah mengantongi identitas kedua korban. “Mereka itu bukan begal. Bukan DPO. Bukan juga target operasi yang selama ini dicari oleh kepolisian. Koq ditembak,” cetus Rangga.

Menurutnya apa yang dilakukan oleh oknum polisi itu adalah pelanggaran HAM berat. “Penggunaan senjata api diperuntukkan dalam keadaan mendesak atau urgent. Penembakan itu salah prosedur,” sebut Rangga.

Ia lalu mengisahkan pada malam kejadian itu kedua korban baru saja selesai mengerjakan skripsi di Jalan Sunu. Pada saat hendak kembali ke Asrama HPPMI Maros tiba-tiba keduanya diadang tak jauh dari RS Awal Bros oleh oknum polisi. Sontak korban kaget.

‘’Mereka refleks, lalu  tancap gas, Namun disayangkan karena oknum polisi mengambil tindakan yang saya anggap salah karena langsung menembak korban Ariyaldi Kamal yang pada saat itu dibonceng oleh Muh Nur  tanpa ada tembakan peringatan terlebih dahulu,” kisah Rangga.

Ia merujuk pada Pasal 47 Peraturan Kapolri (Perkapolri) nomor 8 Tahun 2009 serta Perkapolri nomor 1/ 2009 tentang Penggunaan Kekuatan dalam Tindakan Kepolisian. ‘’Di situ sangat jelas diatur bagaimana penggunaan senjata api. Salah satunya hanya boleh digunakan bila benar-benar diperuntukkan untuk melindungi nyawa manusia,” sebut Rangga.

Atas dasar itu, katanya, seharusnya kepolisian lebih bijak dan profesional dalam melaksanakan tugasnya serta menempatkan senjata api sesuai proporsedur. “Selaku Ketua BEM Fakultas Hukum saya mengutuk keras tindakan oknum kepolisian itu,  dan mendesak Propam Polda agar objektif dan memegang teguh asas “equality before the law” untuk menuntaskan kasus ini agar polisi tetap dicintai oleh rakyat,” tegas Rangga.

 

Penulis : Herman

Editor : Aril

Pos terkait