INFOSULSEL.COM, TORUT – Jangan pernah ragukan kemampuan para difabel . Untuk urusan menaklukkan puncak gunung pun mereka bisa lakukan, mengalahkan manusia normal. Itu sudah dibuktikan saat sembilan para difabel menembus puncak Gunung Sesean di Kabupaten Toraja Utara (Torut) Sulawesi Selatan hanya dalam waktu tiga jam.

Para pendaki Difabel Menembus Batas Part II melakukan misi pendakian Sabtu siang. Mereka mulai star dari kaki gunung sekitar pukul 13.30 Wita dan tiba pukul 16.30 Wita.
Pendakian ini dalam rangka memperingati hari penyandang disabilitas Internasional 2017 yang jatuh tiap tanggal 3 Desember. Sekitar 70 orang penggiat alam bebas bersama 9 orang penyandang disabilitas memanfaatkan momen ini melakukan pengembaraan di alam bebas.
Sebelum melakukan pendakian, gabungan penggiat outdoor dan difabel ini dibagi dalam tim kecil yang terdiri atas 5 – 6 orang. Satu tim satu orang penyandang disabilitas.

Tim tiba pertama di puncak gunung yang memiliki ketinggian 2100 mdpl ini adalah tim yang beranggotakan difabel buta dan daksa kinetik. Cuaca selama pendakian relatif cerah hingga tim rata-rata tiba menjelang petang.
Salah satu atlet difabel daksa, Agusalim mengatakan sangat merasakan sensasi pada pendakian ini. “Jika dibandingkan dengan tidur di hotel selama dua malam, disini lebih sensional. Dengan pendakian ini kita ingin perlihatkan bahwa difabel juga bisa mendaki gunung. Karena itu jangan pandang kami sebelah mata, ” ujar Agus di puncak Sesean.
Ia juga berharap dengan kegiatan ini bisa mendapat perhatian publik lebih luas. “Kita juga butuh dukungan pemerintah bukan hanya materi tapi juga dorongan moril, ” ujarnya.
Sementara difabel buta Abdul Rahman sangat bersyukur bisa ikut sampai ke puncak. Apa lagi ia tiba sebelum malam. Selama perjalanan, dia mengatakan bergerak atas instruksi dari pendampingnya yang berada di belakang, depan dan sampingnya. Meski sempat tergelincir namun Rahman mengaku menikmati perjalanan ini.
Ini bukan kali pertama bagi Rahman yang memiliki sekitar 30 persen penglihatan melakukan pendakian. Tahun lalu ia malah sampai ke puncak Gunung Latimojong Enrekang yang medannya jauh lebih berat menuju pun cak Gunung Sesean. Selain itu dia juga membawa beban daypack di punggung.

“Saya sudah tidak mengalami kesulitan dalam orientasi mobilitas karena intruksinya tepat. Berbeda dengan pendakian Latimojong yang kadang tidak tepat instruksinya dan masih ditarik pakai tali webing yang dililit di pinggang. Di sini (Sesean) saya hanya dipakaikan harness, pengaman panjat tebing, tapi sudah tidak ditarik, ” katanya.
Menurutnya pendakian di Latimojong menjadi pembelajaran berharga untuk orientasi mobilitas dan komunikasi instruksi. Pendakian difabel ini juga diluar dugaan. Karena hanya menempuh waktu 3 jam. Sebelumnya diprediksi 4-5 jam tiba di puncak.
We’re all able todo anyithing.
Penulis : Aril





