Pelaksanaan PPDB SMA Tuai Ragam Masalah, Ini Penjelasan Kadisdik Sulsel

INFOSULSEL.COM, MAKASSAR— Pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2018/2019 tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) menuai berbagai komplain dari seluruh perwakilan siswa baru yang mengeluhkan sistem pelaksanaan PPDB.

Seperti yang disampaikkan Masdir, salah satu orang tua siswa yang mengeluhkan anaknya tidak terdaftar di pilihan sekolah pertama sementara skor yang anaknya miliki cukup tinggi, yakni mencapai 433. Dia juga mengalahkan hingga 30 orang siswa.

Bacaan Lainnya

Masdir mendaftarkan anaknya di SMAN 2 Makassar sebagai pilihan pertama, sementara kuota siswa yang diterima di SMAN 2 melalui jalur akademik sebanyak 70 orang. Skoring anaknya yang bernama Dwi Suci masuk dalam range siswa yang lulus. Nilainya 433 poin. Seharusnya Suci berada di urutan 43. Namun di sistem, namanya tidak ada. Di urutan 42 skoring siswa lulus 434. Dibawahnya langsung terinput siswa dengan skoring 432.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Disdik Sulsel, Irman Yasin Limpo mengatakan hal itu bisa terjadi lantaran pihaknya menerapkan sistem timer. Dijelaskan bahwa sistem timer ini yang sebelumnya akan diumumkan pada 25 Juli lalau terpaksa ditunda hingga tanggal 28 Juni, sehari setelah pilkada serentak sehingga banyak data yang baru masuk di sistem hingga malam hari.

Keterlambatan data itu, kata Irman membuat sistem sempat terhenti, kemudian kembali bekerja secara otomatis hingga larut malam.

“Ini baru gelombang satu, sampai kemarin kenapa baru jam 2 kita buka pengumuman karena waktu kita tunda itu password nya sistem timer kita tutup di jam 2, dua hari selanjutnya jam 2 lagi baru buka,” kata None, sapaan akrab Irman YL, Jum’at (29/6).

“Karena ini kan tiga sekolah jadi sistem menyesuaikan pilihan siswa, namun yang mendaftar belum masuk semua. Mungkin masih loading. Kita tutup itu tadi malam jam 12 data masuk,” lanjutnya.

Lebih lanjut, masing-masing orang tua siswa memiliki masalah, yakni belum paham tentang sistem peringkat nilai.

“Jadi dimana nilainya tinggi maka di situ dia ditetapkan. Kan tiga sekolah ini, mereka kaget nama anaknya tidak ada, padahal dia belum cek kalau nilainya lebih tinggi di pilihan ke dua atau ke tiga,” jelas None.

None melanjutkan, bahwa sistem scoring yang dilakukan oleh e-Panitia sebenarnya memudahkan pemilihan sekolah bagi siswa baru, alasannya sistem yang bekerja secara otomatis menempatkan siswa sesuai nilai atau skor yang diraih oleh setiap siswa.

“Ini bukan kayak dulu dimana kalau pilihan pertama diutamakan, tapi pilihannya itu di sekolah mana nilainya paling tinggi maka disitu lah dia terpilih atau lulus,” lanjutnya.

Penulis: Mirsan
Editor: Yudhi

Pos terkait