INFOSULSEL.COM, MAKASSAR— Ustadz Ije, demikian sapaan akrabnya. Pemilik tagline “Nobody’s Perfect” bernama lengkap Muh Iqbal Djalil memutuskan untuk tidak lagi maju bertarung di Pileg 2019 meski peluangnya untuk duduk kembali dikursi empuk DPRD Makassar sangat terbuka.
Hal itu lantaran pada Pileg 2014, Ije yang maju di daerah pemilihan (Dapil) IV (Biringkanayya – Tamalanrea) berhasil meraup 2.095 suara dan menghantarkannya duduk di DPRD Kota Makassar.
“Saya memilih tidak maju karena laya lebih pilih persahabatan dari pada kekuasaan. Kekuasaan gampang di cari tapi persahabatan yang sulit dicari. Saya akan fokus selesaikan dulu amanah dengan rakyat di DPRD Kota Makassar,” terang Ije, ditemui di gedung DPRD Kota Makassar, pada Rabu (18/7/2018).
Keputusan untuk tidak maju kembali di Pileg 2019 juga terungkap melalui akun media sosial Path Ije Iqbal. Berikut ungkapannya:
“Seberapa jauh kaki melangkah sejauh itu jarak pengabdian diayun. Ssberapa luas wilayah yang dijangkau, seajuh itu resonansi pengandian digetarkan. Begitu kata orang bijak.
Ya, seperti itu arti pengabdian yang saya maknai. Bahkan lebih jauh, saya menempatkan setiap hela nafas sebagai hembusan oksigen pengabdian yang bisa dihirup oleh siapa saja, yang bisa memberi kekuatan hidup kepada banyak kalangan.
Meski begitu, naif kiranya jika saya menafikkan perspektif tertentu bahwa ada demensi wilayah pengabdian yang menjadi ‘primadona’, entah karena luas area yang bisa dijangkau atau bisa juga karena ‘power’ yang terhimpun sebagai kekuatan untuk mengabdi jauh lebih kuat.
Wilayah ini seringkali jadi rebutan. Wilayah seringkali membuat pergesekan nyaris tak terhindarkan. Wilayah ini sering meniadakan “pertemanan” dan wilayah ini seringkali menepatkan kekuasaan sebagai orientasi, sehingga yang mengekarnya tega menghadirkan sosok Machiavelli sebagai idola, menghalalkan segala cara yang penting tujuan tercapai.
Saya termasuk orang yang sungguh-sungguh berbahagia. Kenapa? Karena saya pernah dan sedang ada di wilayah itu tetapi menghindar dan terhindar dari faham yang memposisikan kekuasaan sebagai “segala-galanya”. Saya sama sekali tidak pernah tergoda untuk meniadakan pertemenan, apalagi menghalalkan berbagai cara untuk tiba ditujuan.
Jika suatu ketika saya berhadapan dengan pilihan ‘dilematis’ antara persahabatan dan kekuasaan, maka pilihan saya akan jatuh pada mana yang bisa membuat kuat dan tegak berdiri, mana yang bisa menopang saya ketika saya tertatih melangkah dan mana yang bisa membuat saya tegar ketika saya rapuh. Dan itu hanya ada dipersahabatan, bukan kekuasaan.
Saya sadar, setiap pilihan pasti berkonsekuensi, setiap pilihan tak bisa terhindar dari resiko dan setiap manusia punya potensi untuk berhadapan dengan konsekuensi dan resiko itu. Juga setiap pilihan akan mengundang respon, bisa “setuju”, bisa “tidak setuju”. Bisa juga “mafhum”, malah ada yang mencibir.
Saya percaya bahwa kalimat yang saya nukilkan di awal tulisan ini, benar adanya. Saya percaya bahwa setiap jengkal wilayah di bumi ini adalah ladang pengabdian yang harus terus kita cangkul yang haru terus kita rawat. Dan perkenankan saya melangkah di setiap jengkal bumi itu karena dengan itu, saya tetap “ada dan bermakna”.
Selamat malam. Salam “Nobody’s perfect“.
(*/yud)
Editor: Yudhi





