Insentif RT-RW Dipotong, Dewan: 9 Indikator Acuan Penilaian Kinerja Sudah Tak Jelas

INFOSULSEL.COM, MAKASSAR – Anggota DPRD Kota Makassar Basdir menilai 9 indikator yang menjadi acuan penilian terhadap kinerja RT/RW untuk mendapatkan insentif sangat tidak jelas.

Hal ini lantaran ada sejumlah lorong yang penataannya bagus dan indah tetapi insentif ketua RT nya di potong. Sementara ada RT lain yang lorongnya sembrawut malah diberi full insentifnya.

Bacaan Lainnya

“Artinya, ada indikator yang dikeluarkan oleh lurah setempat yang tidak jelas karena ada standar ganda. Tidak adami acuan 9 indikator, mau maunyami pak lurah. Walaupun secara pribadi saya katakan 9 indikator yang dimaksud itu tidak pernah tertuang di visi misinya walikota,” kata Basdir, saat diminta tanggapannya terkait adanya sejumlah RT/RW yang menolak menerima insentif lantaran tidak sesuai harapannya, Sabtu (30/3/2019).

Dikatakan, sejak pertama duduk di DPRD, dirinyalah yang pertama memaksa Pemkot untuk menaikkan insentif RT/RW senilai RP1 juta.

“Bahkan saya penrah bilang ke pak Sekda pada waktu itu penuhi itu janjinya pak wali. Kalau kita mau bicara jujur dari awal Pemkot tidak mau, kamilah di DPRD yang memaksa untuk menaikkan insentif RT/RW,” ungkapnya.

Anehnya lanjut Basdir, insentif RT/RW ini dinaikkan pada saat menjelang pemilihan Pemilu 2019.
“Lebih banyak tendensi politiknya ketimbang pemenuhan 9 indikator,” ujarnya.

Sebelumnya, sejumlah Ketua RT di Kelurahan Walawalaya, Kecamatan Tallo kembali dibuat kecewa. Hal ini lantaran gaji insentif yang dijanjikan sebesar Rp1 juta per bulan, namun faktanya hanya diberi Rp250 ribu.

Salah satunya, Ketua RT-07 RW-02 Kelurahan Walawalaya, Junaedi. Ia mengaku kecewa lantaran hanya diberi Rp250 perbulan, alasannya tidak memenuhi penilaian sembilan indikator.

“Kalau alasannya masalah kinerja kenapa cuma insentif kami yang dikurangi. Banyakji juga RT yang tidak memenuhi 9 indikator tapi mereka diberi full insentifnya,” terangnya, Sabtu (30/3/2019).

Dari informasi yang dihimpun, ada 9 Ketua RT di Kelurahan Walawalaya yang insentifnya dikurangi. Tujuh diantaranya tidak ingin mengambil insentifnya lantaran tidak sesuai sesuai yang dijanjikan.

“Yang 2 orang itu sudah dia ambilmi gaji insentifnya, Rp250 ribu/perbulan, totalnya 3 bulan. Tapi saya dan beberapa ketua RT menolak karena kami kecewa, seakan akan kami ini dianak tirikan, padahal kami sudah bekerja sesuai kinerja,” kata Makmur, Ketua RT-05 Kelurahan Walawalaya. (*)

Editor: admin

Pos terkait