INFOSULSEL.COM, MAKASSAR – Anggaran peningkatan prestasi yang dikelola Dinas Kepemudaan dan olahraga (Dispora) Provinsi Sulawesi Selata (Sulsel), sangat minim. Ini berdampak terhadap dana yang berikan kepada cabang-cabang olahraga (Cabor) yang akan mengikuti babak kualifikasi Pekan Olahraga Nasional (PON) yang berlangsung di sejumlah daerah di Indonesia tahun ini. PON XX akan berlangsung di Papua pada Oktober 2020 mendatang.
Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Makassar, Agar Djaya mengaku prihatin dengan kondisi ini. Karena itu demi meringankan beban para pengurus cabor Agar menyatakan siap membantu para atlet.
‘’Memang menyedihkan sekali. Karena itu kami siap membantu para atlet. Tapi tidak semua cabor kami bantu. Karena bisa saja ada cabor yang sudah cukup anggarannya,” ujar Agar Djaya.
Menurutnya, KONI Makassar siap membantu dengan syarat harus ada permohonan dari pengurus cabor. Apalagi ini merupakan kewenangan provinsi.
‘’Kita siap bantu selama anggarannya ada. Ini bentuk perhatia kami kepada atlet yang akan ikut PON. Tapi harus ada permohonan. Hal itu sudah biasa kami lakukan. Tapi tidak banyak. Hanya sebatas uang saku,” jelas Agar Djaya saat ditemui INFOSULSEL.COM usai pembukaan Rapat Anggota KONI Makasar di Hotel Santika Jalan Sultan Hasanuddin, Sabtu (15/6/2019).
Meski siap membantu namun Agar menjelaskan tidak semua atlet bisa dibantu. ‘’Yang kami bantu hanya sebatas atlet asal kota Makassar saja. Kalau atlet dari kabupaten lain, tentu bukan kewajiban kami membantu,’’ sebut Agar.
Anggaran yang dikelola Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Sulawesi Selatan memang minim. Hanya Rp 10 Miliar yang akan dibagi 44 cabor. Nilainya memang tidak merata. Disesuaikan dengan indikator yang ditentukan oleh Dispora berdasarkan prestasi.
Dana tersebut merupakan dana hibah untuk prestasi olahraga yang selama ini dikelolah oleh KONI Sulsel. Bandingkan dengan dana hibah yang dikelola KONI Kota Makassar tahun 2019 yang mencapai Rp 20, 5 Miliar.
Besaran dana yang akan diberikan kepada tiap cabor untuk persiapan Pra-PON 2019 oleh Dispora Sulsel dibagi tiga kategori. Kategor pertama yakni andalan pertama Rp300 juta, andalan kedua Rp250 juta, dan andalan ketiga Rp200 juta. Sementara cabor potensi hanya Rp125 juta, dan cabor non unggulan lebih kecil lagi yakni Rp50 juta.
Kadispora Provinsi Sulsel, Sri Endang Sukarsih menjelaskan, indikator cabor yang masuk andalan pertama peraih medali emas, perak, dan perunggu pada Asian Games 2018. atau peraih emas pada PON 2016 Jabar.
Sementara Indikator cabor andalan kedua, peraih emas pada Kejurnas dewasa 2017 dan 2018. Juga peraih perak PON Jabar, dan peraih perunggu pada kejuaraan internasional.
“Cabor di kategori andalan ketiga adalah peraih perak kejurnas dewasa 2017/2018, peraih perunggu PON Jabar, peraih emas dan perak eksebisi PON Jabar, serta peraih emas Pomnas 2017,” papar Sri.
Untuk cabor potensi indikatornya, satu peraih perunggu eksebisi PON Jabar, dua perunggu kejurnas, perak dan perunggu Pomnas. Sementara cabor non unggulan adalah cabor yang tidak dipertandingkan di PON.
Kepala Bidang Peningkatan Prestasi Dispora Sulsel, Muhlis Mallajareng menyebutkan ada 11 cabor yang masuk dalam kategori andalan pertama. Dan tujuh cabor andalan kedua.
“Kalau Kategori Andalan ketiga ada lima cabor, 22 cabor potensi , dan empat cabor non unggulan,” jelas Muhlis.
Penulis : Asril Syahril





