Oleh : Sri Syahril
KABAR meninggalnya Rifai Manangkasi saya terima dari Zulkarnain Ali Naru. Wartawan Posmakassar itu mengabari saya via telepon seluler yang tergeletak di atas meja kerja saya. Tepat pukul 19.21 WITA, Senin malam (26/8/2019).
Saat itu saya tengah sibuk membuat dan mengedit berita dari reporter INFOSULSEL.COM. Telepon genggam saya berdering kencang. Buru-buru saya jawab. Belum sempat memberi salam, tiba-tiba suara dari sebarang sana terdengar. Suara itu tidak asing di telinga saya.
‘’Sri, Rifai katanya meninggal,” kata Zulkarnain dari balik telepon di sebrang sana.
Serasa tidak percaya mendengar kabar duka itu.
‘’Hah… Sembarang ko bilang,” jawab saya dengan dialeg Makassar.
Tapi Zul, begitu saya menyapanya mencoba meyakinkan saya.
‘’Coba lihat di grup JOIN. Rifai meninggal di Malili tadi sore,” Zul kembali meyakinkan saya. Suaranya lirih menahan tangis.
‘’Ok,’ jawabku.
Buru-buru saya buka ponsel. Jemari saya menari di atas layar. Ternyata kabar duka itu benar. Ucapan duka, Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un, memenuhi halaman grup.
Badan saya terasa lunglai. Saya menarik napas berkali. Tulang-tulangku seakan copot. Seakan tak percaya. Tapi foto-foto Pay, begitu saya menyapa dia, sangat jelas di postingan grup WA. Tubuhnya terteliungkup di samping lemari kamar tempat dia menginap selama di Malili.
Wajah di foto itu tidak asing bagi saya. Termasuk semua saudara, bahkan almarhum kedua orang tua saya yang juga mengenal dekat dengan sosok Rifai.
Beberapa teman, saya hubungi. Salah satunya Irma, pengurus DPW JOIN Sulsel yang selama ini sering saya hubungi jika ponsel Ketua DPW JOIN Sulsel itu tidak bisa dihubungi.
Sambil menangis Irma yang masih berada di Kabupaten Sidrap yang juga baru saja melaksanakan pesta pernikahan membenarkan kabar duka itu.
“Iya kak. Bapak sudah tidak ada,” kata Irma, sesungguhnya.
‘’Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un,” ucapku pelan, ketika Irma membenarkan kabar duka itu.
‘’Kenapa bisa,” tanya aaku mencoba cari tahu penyebab kepergian sahabatku itu.
Masih sambil terisak Irma menceritrakan sebisanya seperti apa yang dia dengar dari teman sesama wartawan anggota JOIN di Malili.
****
Masih terbayang dalam ingatan saya ketika Rifai hadir dalam rapat pengurus JOIN Makassar di ruang kerja saya di Jalan Ujungpandang Nomor 6, Cafe Ombak, Kamis (22/8/2019). Itulah pertemuan terakhir saya. Juga dengan beberapa teman seprofesi yang tergabung dalam organisasi wartawan JOIN Makassar.
Hampir tengah malam ketika dia pamit pulang. Sebelumnya kami sepat ngobrol soal perkebangan JOIN dan rencana program kedepan.
Sebelum dia naik ke mobil jeep warna hitam yang dikendarainya, saya sempat bertanya kapan dan dengan siapa ke Malili. Rifai jawab, besok (Jumat, 23/8/2019). Perginya, sendiri.
Rifai sempat mengajak saya. Tapi di hari yang sama saya juga akan ke Tana Toraja untuk sebuah liputan. Saya minta dia cari teman untuk menemaninya. Karena perjalanan Makassar – Malili itu cukup jauh. Butuh waktu belasan jam.
‘’Kalau saya tidak ke Toraja hari Jumat pagi saya temani ke Malili. Tapi saya sudah janjian sama teman,” jawabku.
‘’Tidak apa-apa ji. Saya sudah biasa jalan sendiri,’’ katanya.
Sebelum meninggalkan tempat parkir di bihir pantai Rifai masih sempat mengingatkan Sabri, Pelaksana Tugas (Plt) Ketua JOIN Makassar, terkait sejumlah agenda organisasi dan kelanjutan Diklat bagi wartawan muda anggota JOIN.
****
Rifai bukanlah sosok asing bagi saya. Sejak tahun 1983 saya dan Rifai bersahabat. Saat itu kami berdua sama-sama masih di bangku SMP yang berbeda. Jarak rumah kami pun tidak jauh. Hanya berjarak sekitar 500-an meter.
Rifai dan ibunya yang saya panggil Indo Pay, tinggal di kompleks SMP dan SMA Muhammadiyah, Tello Baru. Sementara saya tinggal di Asrama Komat yang sekarang menjadi Markas Kodam XIV Hasanuddin. Sekitar tahun 1984 seluruh penghuni asrama tentara itu direlokasi. Saya dan orang tua tinggal di Antang. Penghuni lainnya ada yang di BTN Antara ada yang ke Perumnas Todopuli.
Meski saya pindah rumah namun persahabatan kami tetap berlangsung. Bahkan Rifai sering nginap di rumah saya. Saya pun begitu, sering nginap dan merasa di rumah sendiri saat berada di rumah Rifai. Ibunya, Indo Pay sangat baik. Saya diperlakukan seperti anak sendiri. Ya, kami bedua memang tidak bersaudara, tapi lebih dari saudara kandung.
Semasa remaja Rifai aktif sebagai remaja masjid di masjid depan PLTU Tello Baru. Dia juga aktif di berbagai organsiasi lainnya. Termasuk di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM).
Sejak tahun 80-an banyak kenangan kami lalui bersama. Sebelum menjadi wartawan, kami sama-sama aktif di Sanggar Merah Putih (SMP) yang dibina Kak Yudistira Sukatanya. Bahkan kami sempat menjadi penghuni Dewan Kesenian Makassar (DKM) dan Fort Roterdam. Di dua tempat bersejarah itu hampir setiap sore kami latihan seni peran.
Itu sekitar tahun 1986 saat kami sama-sama di SMA. Kami sama-sama pernah terlibat dalam pementasan drama panggung I Laga Ligo tahun 1987 di DKM selama lima hari.
Di DKM dan Fort Roterdam, selain bergaul dengan para seniman dan budayawan juga dengan wartawan-wartawan senior. Salah satunya Rahman Arge (Alm). Wartawan senior yang juga seorang seniman dan budayawan. Juga pernah menjadi Ketua PWI Sulsel ketika kantor PWI masih di Jl Penghibur, depan Pantai Losari.
Suatu hari di tahun 1988 saya dan Rifai, mulai merintis profesi di dunia jurnalistik. Tablodi Pancasila menjadi media pertama kami bersama Usdar Nawawi yang sekarang Pimpinan Bugis Pos. Saat itu Usdar salah satu wartawan Majalah Fakta. Majalah kriminal ini media yang cukup disegani di era 80-an. Saat itu masih sedikit wartawan.
Setelah itu kami bedua sama-sama hijrah ke Harian Pelita. Saya ditugaskan di Enrekang selama setahun sementara Rifai tetap di Makassar. Salah satu yang sangat berkesan ketika kami berdua membongkar kasus pembobolan brankas Kantor Camat Anggeraja di Cakke. Ternyata otak kasus itu melibatkan istri cama sendiri. Seorang pamong dia libatkan pula. Peristiwa yang menggegerkan itu terjadi di awal tahun 90-an.
Istri camat tersebut orang berpengaruh di Enrekang. Karena kasus ini pula kami berdua sempat jadi ‘buronan’ keluarga terdakwa. Sebab, setiap edisi selama beberapa bulan, berita itu selalu menghiasi media tempat kami bekerja. Tapi Kapolres Enrekang saat itu menjamin keamanan kami.
Setiap pekan saat sidang kasus pembobolan brankas ini, Rifai bolak-balik Makassar-Enrekang demi menemani saya.
Dari Harian Pelita kami berdua kembali bersama Usdar Nawawi mengelolah majalah Semangat Baru. Kantornya di Jl M Yamin. Dulu dekat Rumah Potong Hewan (RPH) Pa’molongang, Maccini. Kawasan itu dulu dikenal sebagai kawasan Texas. Hampir setiap hari ada perang kelompok.
Kawasan itu semakin menakutkan karena banyak orang yang lalu lalang jelang tengah malam membawa pisau mengkilap di pinggang. Sekujur pakaiannya penuh darah. Tapi sesungguhnya mereka bukanlah penjahat. Melainkan para pemotong dan pedagang daging sapi di RPH ‘Pamolongang Maccini.
****
Kemana-mana saat ditugasi ke luar daerah, saya dan Rifai selalu berdua. Seperti orang pacaran. Daerah Selatan menjadi kawasan yang sering kami jelajahi. Mulai dari Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, hingga Bulukumba, kampung almarhum orang tua Rifai. Bone dan Sinjai, juga kami rambah. Termasuk kawasan Ajateppareng. Bahkan sampai ke Sulawesi Barat. Semua demi mencari sebuah informasi.
Awal tahun 1990-an kami berdua bergabung di sebuah harian. Namanya harian BINABARU. Saya, Rifai dan Usdar serta beberapa teman lainnya jadi wartawan perintis koran yang kini berubah nama menjadi Harian BERITA KOTA Makassar. Koran tersebut menjadi media kriminal pertama di Indonesia Timur.
Di media ini banyak melahirkan wartawan hebat. Diantaranya, Dahlan Dahi. Dari BINABARU (BERITA KOTA) dia pindah ke harian Surya. Ia kemudian ditugasi ke Jakarta setelah beberapa tahun ngepos di kantor Gubernur Sulsel. Bahkan pernah ditugasi meliput perang di Irak dan sempat menjadi tawanan tentara Irak.
Dahlan Dahi adalah penggagas lahirnya Tribunnews.com di Gramedia Grup (Kompas). Dia juga mantan Pemimpin Redaksi Tribun Timur, Makassar.
Selain Dahlan ada nama Herman Hafsah. Terakhir menjadi kepala biro Metro TV di Makassar. Ada juga Rahman Pina, anggota DPRD Makassar dari Fraksi Golkar dua periode. Pada Pileg April 2019 lalu ia terpilih kembali tapi naik kelas ke DPRD Provinsi Sulsel.
Nama lain, Andi Muh Fadli. Eks Ketua AJI dan mantan wartawan TransTV. Kader BKM lainnya yakni almarhum Kamaluddin. Dan beberapa nama lainnya.
Juga di koran yang masuk dalam grup Fajar itu, kami tetap bersama Usdar Nawawi, senior saya dan Rifai di dunia jurnalistik. Selain kawan, Usdar kami anggap guru kami. Saya sebut dia, suhu.
Cukup lama saya di koran ini. Tapi Rifai memilih ‘pergi’ mencari suasana baru di media lain. Saya tetap bersama Usdar Nawawi. Sejak saat itu saya dan Rifai ‘berpisah’ media. Namun komunikasi kami tetap lancar.
Sebelum kami berdua gabung di BINABARU, Rifai pernah kena musibah. Ia ditikam seseorang di lokasi pameran pembangunan. Kejadiannya bulan Agustus. Saya lupa tahun berapa. Yang pasti awal 90-an. Sebilah badik menembus ginjalnya. Saya lupa, ginjal sebelah mana. Entah kiri atau kanan.
Cukup lama ia dirawat di rumah sakit. Saya sempat menunggui dia saat dirawat di rumah sakit. Gantian dengan almarhumah Ibunya yang meninggal di rumah orang tua saya di Kompleks Perhubungan Laut, Antang lima tahun lalu. Sejak saat itu dokter memvonis ginjalnya tak berfungsi.
****
Begitulah. Hingga suatu hari pada tahun 2017 saya kembali bersama Rifai. Ketika itu dia mengajak saya bergabung di kepengurusan JOIN Sulsel, sebuah organisasi kewartawan yang dia rintis bersama sejumlah wartawan dari berbagai daerah di Jakarta.
Rifai adalah sosok pekerja keras dan ulet. Mudah bergaul dan peramah. Konsisten dalam bersikap. Meski ia sedikit ‘tertutup’. Itu diakui Zulkifli Gani Ottoh, senior kami di dunia kewartawanan.
Saat melepas jenazah Almarhum di rumah duka Kompleks Bumi Zarindah Blok B No. 8, Samata Kabupaten Gowa sebelum diberangkatkan ke Taman Makam Keluarga Al Waqiah di kecamatan Pattalassang, kabupaten Gowa, mantan Ketua PWI Sulsel dua periode ini menegaskan almarhum adalah seorang pejuang di dunia kewartawanan.
‘’Bukan hanya Sulsel yang kehilangan seorang pejuang di dunai kewartawanan, tetapi Indonesia merasa kehilangan,” kata Zugito, dengan suara terbata-bata.
Kini, Rifai telah pergi di usianya yang masih 53. Ia tutup usia di saat tengah mengurusi organisasi yang ia rintis. Organisasi profesi yang dia geluti sudah 31 tahun. Saya yakin Rifai dipanggil karena Sang Pencipta menyayangi dia.
Rifai ditemukan sudah tak bernyawa oleh teman-teman seprofesinya sendiri. Kabar duka ini memukul kita semua. Sesamajm jurnalis. Tidak hanya di JOIN, tapi di PWI, organisasi wartawan pertama di Indonesia. Bukan hanya di Sulsel tapi di seluruh Indonesia.
Kepergian Rifai untuk selamanya itu membawa duka yang mendalam. Tidak hanya dirasakan oleh keluarganya. Duka itu dirasakan oleh kita semua. Wartawan di seluruh Indonesia.
Bagi saya Rifai adalah sosok hebat yang mandiri. Ia mampu menghadapi kerasnya hidup bersama ibunya yang saya panggil Indo Pay. Perempuan yang semasa hidunya saya anggap seperti ibu kandung saya sendiri. Yang memperlakukan saya seperti anaknya sendiri bersama anak semata wayangnya, Rifai.
Rifai, banyak memberi pelajaran hebat kepada junior-juniornya. Pelajaran bagaimana menjadi wartawan hebat, cerdas dan berwawasan.
Kini Rifai telah tiada. Rifai telah pergi mendahului kita semua. Selamat jalan saudaraku. Doaku, doa ribuan orang mengiringimu.
Insya Allah, Allah SWT akan menempatkanmu di Jan’nah-Nya. Aamiiin.
Kami tau kau sudah berusaha untuk membesarkan JOIN. Meski juga kami tahu bahwa masih banyak cita-citamu yang belum terwujud. Namun Tuhan telah memanggilmu.
Biarkan kami melanjutkan tugas yang belum selesai itu. Tenanglah kau di sana Saudaraku. Perjuanganmu akan dicatat oleh kami sebagai perjungan luar biasa.
Selamat jalan Saudaraku. Selamat jalan laki-laki hebat. Walau kembali tak bernyawa. Kami tau kau telah berjuang membesarkan JOIN. Semoga Amal dan ibadamu di terimah di sisi Allah SWT. Dan semoga surga adalah tempatmu yang abadi, Amin.
Makassar, 27 Agustus 2019





