Prestasi Klopp, Top

Pelatih Liverpool Juergen Klopp.

INFOSULSEL.COM, MAKASSAR —- Pada tanggal 8 Oktober 2015 menjadi momen paling bersejarah bagi Liverpool di era sepakbola modern. Saat itu, mereka menunjuk Juergen Klopp untuk menjadi manajer dengan kontrak tiga tahun ke depan.

Klopp datang dengan gaya khasnya, selalu nyentrik, dan menggebu-gebu saat tampil di depan publik. Butuh waktu 36 jam bagi Klopp, untuk bisa nyetel dengan atmosfer di Merseyside.

Minum-minum dengan staf barunya, tidur sebentar, lalu menghadiri sesi media, baru selanjutnya jumpa dengan anak-anak asuhnya di Liverpool Bukannya bertemu dengan tim senior, pada hari pertamanya, Klopp justru mau bertemu dengan para pemain muda Liverpool. Kebetulan, saat itu, di Kirkby, Liverpool U-18 sedang berlaga.

Dia ingin menyaksikan bagaimana kualitas para pemain muda Liverpool kala itu. Kesan yang baik, langsung membekas di benak Klopp. Pertama, atmosfer penonton yang luar biasa. Lainnya, ada beberapa pemain yang jadi sorotan Klopp, salah satunya adalah Ovie Ejaria.

Dari sana, Klopp sadar ada beberapa pemain muda Liverpool yang memiliki potensi besar. Perlahan, Klopp mulai mempromosikan beberapa pemain muda ke tim utama. Ada Ben Woodburn, Rhian Brewster, hingga Trent Alexander-Arnold. Nama terakhir, menjadi yang paling sukses dalam perjudian Klopp.

Alexander-Arnold berubah menjadi salah satu bek kanan terbaik dunia. Bukan cuma soal kemampuannya mengawal lini belakang, Alexander-Arnold punya kelebihan lain, ahli tendangan bebas dan menjadi penerus David Beckham di Timnas Inggris.

Dalam era sepakbola modern, jarang manajer yang mau memberikan kepercayaan kepada pemain muda. Rata-rata dari mereka, mau membeli pemain yang sudah jadi.

Pun, manajemen klub tak ragu menggelontorkan dana besar demi memenuhi permintaan sang manajer.

Manchester City adalah salah satu klub yang selalu membeli pemain jadi, tanpa melirik penuh tim akademinya.

Klopp tak mau seperti ManCity yang membangun tim dengan instan. Justru, di era industri sepakbola yang sudah gila, Klopp malah mau menjadikan Liverpool sebagai poros baru dalam urusan akademi, setelah La Masia tenggelam.

“Masa depan seharusnya seperti ini, meski transfer sepakbola dunia sudah menggila. Kami ingin menjadikan pemain di akademi mendapat tempat yang spesial,” ujar Klopp.

Pria asal Jerman itu sejatinya tak terlalu idealis dalam membangun tim lewat akademi. Dia juga membeli beberapa pemain dengan harga yang mahal, seperti Mohamed Salah, Virgil van Dijk, Alisson Becker, hingga Sadio Mane.

Tapi, pembelian itu hanya sebatas sebagai “penguat”, bukan basis proyek Klopp yang sebenarnya.

Saat membeli pemain-pemain mewah, Klopp justru lebih sibuk membahas masalah siapa saja yang layak untuk dipromosikan ke tim utama, setelah Alexander-Arnold bersinar.

Ada Neco Williams, Curtis Jones, dan Harvey Elliot, yang baru saja direkrut dari Fulham. Para pemain muda itu, sengaja dipromosikan ke tim utama oleh Klopp, dengan tujuan bisa merasakan atmosfer persaingan di level lebih tinggi.

Terlebih, Klopp menilai ada beberapa figur yang bisa menjadi teladan para pemain muda The Reds, seperti Jordan Henderson, James Milner, hingga Van Dijk.

“Bagian paling menyeramkan Liverpool sebenarnya bukan hari ini, mereka sedang membangun tim untuk masa berikutnya. Mereka terlihat siap membangun tim untuk waktu yang panjang. Tim dan pemilik lain, bisa meniru apa yang Liverpool lakukan,” kata mantan bek MU, Rio Ferdinand.

“Mereka berinvestasi di sektor lain, ide dari seorang manajer. Jadi, bentuk investasi mereka seorang manajer. Klopp diizinkan untuk mengimplementasikan idenya sepanjang waktu. Kesuksesan tak diraihnya secara instan, tapi lihat empat hingga lima tahun. Sekarang, semua sudah mulai terlihat. Trofi mulai berdatangan,” lanjutnya.(Sumber : vivanews.com/riel)

 

Pos terkait