Analogi Marvie Berbuntut, Suporter PSM Murka

Suporter PSM Makassar.

INFOSULSEL.COM, MAKASSAR – Mulutmu, harimaumu. Peribahasa ini pantas disematkan kepada Marvie Harasan. Pernyataannya yang menganalogikan Pilkada Mamuju di Sulawesi Barat (Sulbar) bak pertandingan sepak bola antara klub raksasa Spanyol, Barcelona melawan PSM Makassar, mencederai perasaan pecinta klub yang lahir tahun 1915 itu.

Pernyataan Anggota DPRD Kabupaten Mamuju dari Partai Hanura itu dianggap berkonotasi negatif. Suporter PSM pun berang.

Bacaan Lainnya

‘’Tidak sepantasnya seorang wakil rakyat melontarkan pernyataan seperti itu. Harusnya Marvie belajar bicara di depan publik, dan belajar sejarah PSM,’’ tegas Hasri Jack, salah satu suporter PSM Makassar, Selasa (2/6/2020).

“Makanya kalau tidak tahu, jangan songong soal PSM. Saya sarankan Mervie segera cabut pernyataan itu dan minta maaf secara terbuka kepada seluruh keluarga besar PSM sebelum ini benar-benar menjadi persoalan besar,” cetus Hasri yang juga seorang advokat, ini.

Hasri Jack menilai, analogi Mervie yang dengan santainya mengatakan hal tersebut telah melukai perasaan keluarga besar PSM.

“Mervie itu siapa? Apa dia tidak sadar dengan ucapannya? Apakah dia tidak tahu PSM? Jangan sampai dia mengira PSM itu hanya di Kota Makassar? Pernyataan orang itu (Mervie) telah menghina dan merendahkan PSM,” pekik Hasri.

Hasri menegaskan, tidak etis seorang anggota DPR dan pengurus Parpol tidak tahu bagaimana cara beranalogi yang baik. Ia menuding Marvie tidak tahu bahwa PSM itu klub sepak bola tertua di Indonesia dan memiliki sejarah panjang persepakbolaan di negeri ini.

“Apakah tepat klub sepak bola dijadikan analogi dalam wacana politik praktis? Apalagi sampai menghina dengan membanding-bandingkan dengan klub Barcelona? Statment itu keterlaluan,” tegas Hasri.

Kecaman serupa datang dari mantan pemain PSM Makassar yang juga anggota DPRD Mamuju, Sulbar, Febrianto Wijaya. Menurut legislator Partai Demokrat ini, sepakbola bukan tentang pemain 11 lawan 11. Bukan pula tentang team kaya raya atau miskin. Atau tentang menang dan kalah.

‘’Club sepakbola sekelas PSM, punya sejarah. Punya suporter dan punya ciri khas sendiri. Jangan sakiti hati suporter dengan ucapan-ucapan yang anda pun tidak mengerti sejarah PSM. Diksi politisi senior yang arogan. Dan saya yakin satu di antara seribu pemilih bapak pasti ada pecinta PSM, dan anda telah menyakiti pemilih Bapak,” ujar Anto, sapaanya.

Senada dengan Hasri, Anto juga mengingatkan kepada Marvie untuk tidak membawa analogi olahraga di politik.

‘’Apalagi memandang enteng team besar sekelas PSM Makassar,” tegas Anto.

Analogi Marvie yang mendiskreditkan PSM juga membuat geram kelompok suporter The Maczman Zona Sulbar.  Ketua kelompok suporter kreatif ini Sukardi Muchlis dengan tegas meminta kepada Marvie untuk mengklarifikasi pernyataannya dan segera meminta maaf kepada supporter PSM.

“Kami pecinta bola, bukan tim sukses untuk Pilkada. Terlalu berlebihan menganalogikan dengan cara membandingkan Barcelona dengan PSM. Sangat terlalu dan melukai hati kami pecinta PSM. Kami minta Mervie mengklarifikasi pernyataannya dan meminta maaf secara terbuka dalam waktu 1×24 jam,” tegaa Bogel, sapaanya seperti  dikutip Hariannusantara.info.com, Selasa (2/6/2020).

Bogel meminta Mervie atau siapapun untuk tidak membanding-bandingkan PSM dengan klub manapun. Apalagi diseret sampai pada persoalan Pilkada.

“Ini soal rasa cinta, bukan soal kekuasaan. PSM itu salah satu club tertua di Indonesia bahkan Asia Tenggara. PSM melahirkan Ramang, pesepakbola legendaris kebanggan Indonesia. Jadi jangan ciderai rasa cinta kami,” kata Bogel dengan suara lantang.

Kekesalan pecinta PSM berawal ketika Marvie membuat statemen terkait Pilkada di kabupaten Mamuju. Ada dua bakal calon yang akan bertarung di daerah tersebut yakni pasangan Habsi-Irwan dan Sutinah.

Oleh Marvie, sang petahan dinilai masih terlalu kuat untuk dibandingkan rivalnya. Nah, disitulah poltisi senior ini tak segan menganalogikan Pilkada Mamuju pada 9 Desember 2020 nanti bak pertandingan sepak bola antara klub raksasa Spanyol, Barcelona melawan tim asal Indonesia, PSM Makassar.

“Petahana jilid II ini terlalu kuat buat Sutinah. Ini seperti Barcelona Vs PSM. Biar pelatih sekaliber Jose Mourinho yang latih PSM, tetap tidak bisa kalahkan Barcelona,” katanya dikutip mediaekspres.id, Senin (1/6/2020).(andi./riel)

Pos terkait