Jam Operasional Ditambah, IDI Makassar Nilai Pj Wali Kota Remehkan Covid-19

  • Whatsapp
Rapat Koordinasi Satgas Covid-19 Dalam Rangka Pemberlakuan Protokol Kesehatan Bagi Dunia Usaha (FOTO: HUMAS PEMKOT MAKASSAR).

INFOSULSEL.COM, MAKASSAR  – Kebijakan Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar dengan memperpanjang pelonggaran jam operasional mendapat pertentangan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Makassar.

IDI menganggap, kebijakan yang dikeluarkan oleh Pj Wali Kota, Rudy Djamaluddin sangat tidak relevan ditengah kondisi meningkatnya kasus Covid-19 di Makassar.

Muat Lebih

“IDI sudah mengingatkan, tapi hasilnya seperti ini, yang ditakutkan kalau dokter bersama nakes sudah berjatuhan maka pelayanan bisa lumpuh,” kata Dewan Pertimbangan IDI Kota Makassar, Idrus Andi Paturusi, Selasa (12/1/2021).

Merujuk pada surat edaran Pemkot Makassar, Idrus mengatakan sangat menyesalkan keputusan tersebut. Sebab, saat ini kondisi Covid-19 di Makassar sangat memprihatinkan.

“Apa yang diambil Pj Wali Kota Makassar sangat kontra dengan kondisi di lapangan. Di tengah peningkatan pasien positif Covid-19 justru memberikan kelonggaran beraktivitas,” tutur Idrus.

Mantan Rektor Unhas ini menjelaskan, sejak awal 2021, jumlah kasus Covid-19 terus meningkat, dan Makassar sebagai episentrum kasus di Sulsel. Hal ini, kata Idrus, seharusnya menjadi perhatian Pemerintah Kota Makassar.

Per 1 Januari 2021, data kasus terpapar Covid-19 di Sulsel sebanyak 550. Sementara pada 2 Januari 2021 berjumlah 590 kasus, 3 Januari 2021 dengan 595 kasus.

Kemudian, 4 Januari 2021 sebanyak 510 kasus, 5 Januari 2021 sebesar 639 kasus, 6 Januari 2021 sejumlah 463 kasus, 7 Januari 2021 sebesar 366, 8 Januari 2021 sebanyak 588, 9 Januari 2021 sebesar 580, 10 Januari 2021 sebanyak 585, dan 11 Januari 2021 sebanyak 616.

“Kita melihat data, baik peningkatan kasus baru maupun kematian dan penggunaan RS (Rumah Sakit), maka agak membingungkan isi surat edaran wali kota,” imbuhnya.

Sebelumnya, Idris mengatakan 1 dokter telah wafat. Sementara Minggu lalu 3 Professor di Makassar wafat. Selain itu, RS dan hotel isolasi mandiri penuh.

Sementara, Ketua IDI Kota Makassar, Siswanto Wahab mengatakan dengan makin banyaknya dokter yang gugur, justru harusnya makin menyadarkan masyarakat agar jangan menganggap remeh pandemi Covid-19.

Saat ini tingkat penyebarannya lebih masif akibat klaster Pilkada dan Klaster Liburan. Terhitung, sudah ada 11 dokter terbaik anggota IDI Kota Makassar meninggal dunia.

IDI Kota Makassar pun mengimbau agar tetap waspada serta disiplin protokol kesehatan 3 M (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak). Sebab Makassar masuk zona merah, sehingga kebijakan pelonggaran aktivitas bisnis, perkantoran, sosial, dan pendidikan perlu diketatkan kembali.

“Dengan mematuhi 3 M itu, upaya yang paling efektif dan efisien bisa kita lakukan dalam menekan laju Covid-19,” jelasnya.

Terlebih, saat ini, tingkat penularan Covid-19 kembali melonjak dan jumlah pasien yang membutuhkan perawatan juga semakin banyak. Belum lagi adanya varian baru virus corona atau SARS-CoV-2 yang ditemukan di Inggris lebih menular.

Dokter Anto mengatakan, penularan varian baru virus Corona B117 ini bisa mencapai 70 kali lebih berbahaya penularannya .

”Okupansi ruang isolasi di Makassar sudah di atas 85 persen dan ICU (unit perawatan intensif) di atas 80 persen. Daerah-daerah lain juga sama saja, pasien terus bertambah ‘penularannya tinggi’,” sebutnya.

Dokter Anto menjelaskan, tingginya penularan Covid-19 di Indonesia juga bisa dilihat dari data awal tahun kembali pecahkan rekor positivity rate capai 36,6 persen. Data harian positivity rate Indonesia ini sudah lima kali jauh lebih tinggi dari ambang maksimal yang disarankan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebesar 5 persen.

Kasus aktif di Indonesia juga terus meningkat secara signifikan dampak dari klaster Pilkada dan klaster liburan Tahun baru.

Menurutnya, IDI Kota Makassar sudah mengingatkan bahayanya, terbukti saat ini kenaikan melonjak tajam dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya.

Sejak memasuki 2021, Sulsel terus mencetak rekor di antara rekor yang tertular virus Covid-19. Sejak awal tahun hingga saat ini jika dirata-ratakan 500-an kasus yang terpapar Covid-19 setiap hari di Sulsel.

“Di mana Makassar sebagai pusat episentrumnya,” ucap dia.

Selain itu, Humas IDI Kota Makassar Wachyudi menambahkan keputusan Pelonggaran pembatasan aktifitas malam Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar pertanda ketidakpekaan pemkot terhadap kondisi dokter dan nakes serta kondisi saat ini.

“Tingginya Covid-19 di Sulawesi Selatan dan Makassar sebagai episentrum sungguh sangat disayangkan di saat angka meninggi malah buat aturan baru  aktivitas usaha diperpanjang sampai pukul 22.00 Wita,” tutupnya.

Tak hanya memperpanjang jam operasional pelaku usaha, Pemkot Makassar tidak lagi menutup tempat wisata ataupun fasilitas umum.

“Menghidupkan sektor usaha tidak disalahkan tapi panglima tertinggi adalah kesehatan di tengah suasana pandemik Covid-19,” tutupnya.

Sekadar diketahui, Pemkot Makassar mengeluarkan kebijakan melonggarkan aktivitas usaha beroperasi sampai pukul 22.00 WITA, dari sebelumnya hanya sampai pukul 19.00 WITA. (andi)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan