Menurutnya, meski empat anak asuhnya telah angkat koper namun masih ada harapan satu petinju Sulsel yakni Holy Masihor yang bisa pulang membawa medali. ‘’Doakan semoga Holy bisa membawa pulang membawa emas dari PON Papua,” kata Dufri.
Seperti Dufri dan Albert, Manajer Tim Tinju Sulsel Muh Tawing yang hadir menyaksikan anak binaanya bertarung di GOR Cendrawasih juga mengakui lawan yang dihadapi Jhon jauh lebih baik.
‘’Ini pengalaman berharga bagi Jhon untuk bisa mengasah diri agar bisa berlatih lebih giat lagi. PON kali ini juga menjadi pengalaman berharga bagi dia. Saya berharap dia tidak putus asa. Tetap semangat dan terus mengasah kemampuan untuk menghadapi event-even nasional berikutnya,” ujar Tawing.
Ia berpesan, dalam setiap kekalahan, selalu ada sebuah pelajaran yang menunjukkan kepada kita bagaimana cara menggapai suatu kemenangan di hari-hari berikutnya. ‘’Karena pada hakikatnya, pengalaman adalah guru terbaik,” katanya.
Meski empat atlet binaanya telah gugur, Tawing mengaku ia tetap mendampingi para atlet tinju Sulsel sampai PON XX Papua, berakhir.
Jhon Yambe merupakan petinju keempat yang gugur di babak penyisihan. Sulsel tinggal menyisakan satu petinjunya yakni Josua Holy Masihor. Ia melaju ke babak semifinal kelas 52 kg setelah mengalahkan petinju Bangka Belitung Ade Ilham Tapajati. Tiga lainnya lebih dulu angkat koper setelah gagal di babak penyisihan. Masing-masing Hindriawati Haer kelas 54 kg putri, Daud Fairyo kelas 65 kg dan Haris Mongga kelas 91 kg.(riel)






