Secara umum, pneumonia termasuk dalam 10 penyebab kematian utama di Indonesia. Kelompok penyintas COVID-19 pada era pandemi lalu memiliki risiko yang lebih tinggi terpapar karena kondisi paru-paru dan saluran pernapasan yang tidak lagi prima.
Dengan mayoritas jemaah asal Indonesia yang memiliki usia lanjut dan penyakit komorbid, diperlukan sebuah mitigasi protokol kesehatan. Salah satunya melalui vaksin lengkap seprti vaksinasi pneumonia.
“Vaksinasi pneumonia berperan penting untuk memberikan imunitas bagi para calon jemaah haji Indonesia di Tanah Suci. Dengan vaksinasi, kita dapat mengurangi potensi tertular infeksi bakteri, virus, maupun jamur yang berbahaya. Hanya dengan vaksinasi saja, kita bisa menurunkan risiko penularan hingga 2.1 sampai 2.2 kali lipat lebih efektif,” jelas dr. Nevy Shinta Damayanti, Sp.P, MARS, FISR, perwakilan PERDOKHI sembari menambahkan vaksinasi pneumonia juga telah terbukti efikasinya oleh BPOM dan aman.
Terlibat pula dalam talkshow ini, Dr. M. Imran Saleh Hamdani, Pusat Kesehatan Haji. Dia menjelaskan jemaah yang diestimasikan berangkat di tahun 2024 harus dilakukan pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu.
“Pemeriksaan kesehatan akan diperluas dengan ditambahkan tiga assesment yaitu kognitif, mental, dan khusus lansia dilakukan tes kemandirian dalam melakukan aktivitas kesehariannya,” tegas Dr. Imran.
Nyai Hj. Hizbiyah Abdurrachim, Ketua Yayasan Haji PP Muslimat NU, juga menambahkan selama ibadah umrah merasa lebih tenang dan fokus pada ibadahnya tanpa kekhawatiran akan risiko infeksi.
“Perjalanan umrah setelah mendapatkan vaksin pneumonia tidak hanya memberikan pengalaman spiritual yang mendalam, tetapi juga memberinya kedamaian pikiran dan menjadikan lebih fokus menjalankan ibadah,” ujar Nyai Hj. Hizbiyah.
Usai acara berlangsung, Yayasan Astana dan Muslimat NU juga mengajak lebih banyak lagi PPIU dan seluruh layanan kesehatan tersedia untuk berdiskusi dan memastikan akses pada vaksinasi pneumonia dapat didapatkan secara mudah bagi seluruh calon jemaah umrah Indonesia.(*)






