INFOSULSEL.COM, MAKASSAR | JARUM jam baru saja melewati angka 11 ketika lantai 14 Gedung Pinisi Universitas Negeri Makassar (UNM) mendadak berdenyut lebih kencang dari biasanya. Senin siang itu, riuh rendah tabuhan rebana memecah keheningan koridor akademis. Mengiringi langkah mantap seorang pria paruh baya yang membawa map berkas di tangannya.
Adalah Dr. Arifin Manggau, S.Pd, M.Pd, sang Wakil Rektor III, berjalan di tengah kepungan hangat. Sekitar 100-a orang yang tak henti melempar senyum penguat, ikut mendampingi saat pendaftaran.
Di balik riuhnya kawalan, tampak formasi pendukung yang tak biasa untuk sebuah kontestasi politik kampus. Arifin tidak sekadar datang bersama sejawat dosen atau tenaga kependidikan. Ia dikawal oleh sebuah harmoni lintas profesi. Mulai dari akademisi senior seperti Prof. Heryati Yatim dan Dr. Syakhruni, tokoh masyarakat seperti Brigjen Pol (Purn) Adeni Muhan, hingga barisan seniman dan budayawan senior Makassar sekelas Yudhistira Sukatanya dan Ishakim. Semua melebur menjadi satu.
Tepat pukul 11.21 WITA, berkas pendaftaran itu berpindah tangan ke meja tujuh anggota panitia pemilihan rektor. Detik waktu tersebut rupanya bukan sebuah kebetulan yang lahir dari ketergesaan. Di hadapan para jurnalis yang mencegatnya pascapendaftaran, Arifin membuka tabir misteri di balik pemilihan hari pertama, serta kombinasi angka 11 dan 21 yang ia pilih untuk mengetuk pintu sejarah baru UNM.
Bagi sang doktor bidang pendidikan seni, angka adalah simbol, dan simbol adalah bahasa visi. Angka 11 yang menjadi penanda jam pendaftarannya merupakan penghormatan pada plat kendaraan dinas Rektor UNM. Sebuah simbol nakhoda tertinggi institusi.
Sementara angka 21 melambangkan sebuah asa transformasi spiritual dan struktural, metamorfosis peran dari posisi Wakil Rektor III yang biasa disimbolkan dengan kode 02, menuju puncak pengabdian sebagai orang nomor satu (01) di kampus pencetak guru tersebut. Langkah Arifin yang bergerak di hari pertama pendaftaran juga menegaskan statusnya yang unik dalam kontestasi periode 2027–2031 ini.
Lahir di Ujungpandang pada 2 April 1974, pria berusia 52 tahun ini tercatat sebagai figur termuda yang berani meramaikan bursa calon rektor kali ini. Jiwa mudanya terpancar lewat cara pandangnya yang segar. Terutama dalam melihat relasi kuasa dan ego sektoral yang kerap menjangkiti dunia perguruan tinggi.






