ARA, sapaanya mengingatkan tantangan yang dihadapi perusahaan di usia hampir tiga dekade ini kian kompleks. Baginya, modernisasi sistem tidak akan berjalan optimal tanpa dibarengi pembenahan moralitas pekerjanya.
”PD Parkir tidak hanya sedang membangun infrastruktur digital, melainkan juga menanamkan budaya kerja yang berorientasi penuh pada pelayanan publik,” kata lelaki yang pernah tiga periode duduk sebagai anggota DPRD Kota Makasssar (2009-2014, 2014-2019 dan 2019-2024).
Adik kandung salah satu deklarator Partai Demokrat, A. Reza Ali ini menyoroti dinamika perkotaan Makassar yang menuntut respons cepat, transparan, dan akuntabel. Bagi ARA, transformasi pengelolaan parkir memerlukan sokongan organisasi yang tangguh dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.
”Oleh karena itu, investasi terbesar perusahaan saat ini diarahkan pada pembentukan SDM yang tidak gagap teknologi dan memiliki imunitas tinggi terhadap praktik-praktik penyimpangan di lapangan,” ujar lelaki kelahiran 3 Mei 1972, ini.
Menapaki usia ke-27, PD Parkir Makassar Raya menjadikan fase ini sebagai pijakan penting menuju era pengelolaan yang modern. Cetak biru (blueprint) transformasi korporasi kini diarahkan pada beberapa klaster strategis: peningkatan kualitas layanan, optimalisasi potensi pendapatan daerah, penataan juru parkir secara humanis, pengembangan kantong parkir baru, hingga perluasan sistem pembayaran non-tunai (cashless system) secara bertahap.
Karena itu ARA mengingatkan seluruh jajarannya bahwa PD Parkir tidak boleh melulu dipandang sebagai mesin pencetak profit atau Pendapatan Asli Daerah (PAD). Lebih dari itu, perusahaan memiliki tanggung jawab sosial dan ekologis yang besar terhadap tata ruang kota. Ketertiban pengelolaan parkir berdampak langsung pada penguraian simpul kemacetan lalu lintas dan kenyamanan iklim investasi serta aktivitas ekonomi masyarakat.





