Elit Bermain di Pilkada Makassar, Warga Kecewa, Bendera Setengah Tiang Dikibarkan

Warga menaikkan bendera setengah tiang sebagai wujud kekecewaan mereka yang merasa Demokrasi telah mati.

INFOSULSEL.COM, MAKASSAR – Putusan Mahkamah Agung (MA) yang menolak kasasi KPU Makassar  melahirkan kekecawaan dari berbagai masyarakat Kota Makassar. Putusan ini diduga akibat permainan tingkat tinggi para elit yang serakah dan haus akan kekuasaan.

Buntut dari keputusan tersebut, Komunitas Shelter 313 mengungkapkan rasa kekecewaannya dengan mengibarkan bendera setegah tiang sebagai simbol matinya demokrasi di ibukota Sulawesi Selatan ini.

Ketua Komunitas Shelter 313,  Imam Prasetyo mengungkapan lebih 1000 anggotanya sudah sepakat untuk mengibarkan bendera setengah tiang di rumah masing-masing.

“Kami kecewa karena demokrasi di Makassar telah mati. Insya Allah kami akan mengibarkan bendera setengah tiang,” ungkap Imam saat dikomformasi, Kamis (26/4/2018).

Menurutnya semua anggota Shelter se Kota Makassar yang terdiri dari pemuda di seluruh kecamatan, pelajar, mahasiswa dan seluruh anak jalananan akan mengungkapkan rasa kekecewaannya terhadap demokrasi saat ini.

‘’Saya juga mengajak mengajak seluruh simpatisan, pendukung dan masyarakat pro Danny Pomanto-Indira Mulyasari (DIAmi) untuk bergabung dalam gerakan ini,” ajak dia.

Imam menegaskan langkah tersebut sebagai komitmen Shleter 313 untuk terus mendukung DIAmi dalam mencari kebenaran. Ia menegaskan pendzoliman terhadap demokrasi harus dilawan.

“Sampai kapanpun kami tidak akan pernah berhenti memperjuangkan Pak Danny. Apalagi demokrasi saat ini terkesan dipaksakan untuk kepentingan pribadi oknum tertentu,” ungkapnya.

Ia berharap tim hukum DIAmi untuk mengerahkan semua kemampuannya dalam memperjuangkan secara maksimal upaya upaya hukum yang akan ditempuh.

“Semoga MA (Mahkamah Agung) dan KY (Komisi Yudisial) bisa melihat dan memperoses serta memutuskan kedzaliman ini dengan seadil adilnya. komunitas Shelter 313 Makassar mempunyai tekad yang sudah bulat “na ku gunciri Gulingku na Ku alleangi tallangnga na toalia” untuk DIAmi Bismillah Inshaa ALLAH Aamiin,” katanya.

Hal senada dikatakan Guntur, salah satu relawan DIAmi. ia menduga apa yang terjadi di Pilkada Makassar merupakan permainan kotor oknum elit pada level atas.

”Ini bukti dari keserakahan, dan kemunafikan para oknum elit di negeri ini yang haus akan kekuasaan. Demi ambisi pribadinya,  mereka tega mengorbankan masyarakat Makassar,” cetus karyawan swasta di Pelabuhan Makassar ini.

Ia mengaku heran dengan prilaku oknum elit tersebut yang selama ini sering menampakan wajah yang baik.

”Tapi ternyata di balik wajahnya yang terlihat adem tersimpan sifat yang melebihi iblis. Hati mereka busuk.  Saya menduga mereka ini setan yang menjelma menjadi manusia serakah, tamak dan sombong,” ujarnya dengan suara tinggi.

Sekretaris Markas Perlawanan Rakyat (Menara) DIAmi Zulkifli Thahir mengaku terkejut atas respon masyarakat terhadap demokrasi di Kota Makassar.

Cule, sapaanya tidak menyangka sebagaian besar masyarakat merasakan hal yang sama, bahwa demokrasi yang dianggapnya sebagai milik rakyat kini sudah mati di tangan pihak yang tidak bertanggung jawab.

“Putusan MA seakan mengkebiri hak berdemokrasi masyarakat. Jadi wajarlah kalau warga melakukan tindakan dengan mengibarkan bendera setengah tiang sebagai ungkapan rasa kecewa yang mendalam,” cetus pria yang kerap disapa Bang Cule itu.

Menurutnya hal tersebut adalah aspirasi yang mendalam dari sebahagian besar masyarakat Kota Makassar dan tidak dipungkiri memang itulah yang dirasakan. Masyarakat kecewa akan putusan MA.

Penulis : Asril

 

 

Pos terkait