Kisah Pilu Buruh Lendir di Jalan Nusantara (1)
PROSTIOTUSI bisa terjadi di mana-mana. Tidak harus selalu di atas ranjag. Atau tempat-tempat hiburan yang menyediakan wanita-wanita yang siap diajak kencan kilat. Kalau kepepet jok mobil bisa jadi pengganti kasur.
INFOSULSEL.COM,MAKASSAR — NUSANTARA. Sebuah nama jalan di Kota Makassar. Lokasinya tidak terlalu panjang. Hanya sekitar 1 Km. Letaknya persis di depan Pelabuhan Makassar-Soekarno Hatta. Di kawasan ini berjejer puluhan tempat hiburan malam (THM). Mulai dari kios karaoke, panti pijat, discotik, resto & cafe sampai bar & massage. Ada juga kedai-kedai kecil yang numpang di emperan toko. Di kawasan ini lebih dikenal dengan sebutan tenda biru.
Untuk urusan syahwat, Jalan Nusantara di Makassar sudah cukup terkenal. Bahkan sampai ke Manca Negara. Semua THM di kawasan ini menyiapkan wanita-wanita yang siap di ajak kencan. Usainya mulai yang belasan sampai yang sudah masuk masa persiapan ‘pensiun’ (MPP). Tarifnya pun berfariasi. Mulai dari Rp 100-an ribu sampai jutaan. Tergantung waktu bookingan.
Untuk yang short time di luar areal THM, tergantung kesepakatan. Bila lagi beruntung bisa dapat yang tarif kecil. Tapi risikonya tidak dijamin. Maksudnya tidak dijamin kesehatan dan keamanan barang bawaan. Dompet atau ponsel. Bisa saja pulang kencan dompet atau barang bawaan lenyap tak berbekas.
Tapi, tidak semua ‘ayam-ayam kampung’ yang mengais rezki di tempat hiburan bisa diajak kencan sesaat. Di kios karaoke dan panti pijat, misalnya. Anda perlu berhati-hati.
‘’Kalau cuman cium pipi, pegang tangan, sih oke-oke saja. Kalau untuk yang satu itu, maaf belum saatnya,’’ tutur Lisa, salah satu masseur di panti pijat.
‘’Jangan disangka semua masseur bisa diajak gitu-gituan,’’ timpal Tika.
Ia tidak membantah kalau beberapa teman sejawatnya bisa dengan mudah diajak kencan. Malah, ungkap Lisa ada yang terang-terangan mengajak tamu buka-bukaan.
Bagi Lisa, kalau toh misalnya ada pasien yang ingin mengumbar nafsu, ia dengan sopan menolak. Dengan lembutnya ia memberi pengertian pada sang pasien untuk memilih kawannya yang lain. ‘’Terserah pasiennya. Kalau mau, aku panggilkan,’’ katanya.
Dira lain lagi. Janda satu anak yang mengaku berasal dari Malang, Jawa Timur ini memang blak-blakan. Ia siap melayani siapa saja. ‘’Yang penting penawarannya cocok. Aku merantau jauh-jauh bukan mencari cinta, aku cari uang. Anak dan keluarga saya butuh hidup,’’ tutur wanita perusaia 25 tahun yang mengaku asal Dampit, Malang, Jawa Timur ini.
Sehari-hari ia mangkal di salah satu tempat hiburan di kawasan Jalan Nusantara. Bagi Dira, profesi yang sudah digelutinya selama empat tahun itu cukup menjanjikan sesuatu bagi dirinya. Dari segi finansial, tak ada kekurangan.
Dari penghasilannya itu ia mampu mengirim sebagian penghasilannya ke kampung halamannya untuk membiayai anak dan kedua orang tuanya serta dua orang adiknya yang masih sekolah. Semua dibiayai oleh Dira.
Sebagai anak sulung dari tiga bersaudara ia merasa punya beban moral untuk bisa menyambung hidup keluarganya. Kedua orang tuanya tak punya apa-apa. Ayah dan ibunya hanyalah petani penggarap. Penghasilannya bukan lagi pas-pasan. Malah dibawah standar hidup layak. Sementara suaminya yang sejak lima tahun lalu merantau ke Negeri Jiran, Malaysia tak pernah ada kabar beritanya. Dira mengaku ditinggal merantau suaminya saat kandungannya berusia lima bulan.
‘’Pekerjaan ini terpaksa aku lakoni. Semua demi anak dan keluarga saya di kampung,’’ tuturnya lirih sambil mengisap rokoknya dalam-dalam dengan mata menerawang.
Ia pun sadar apa yang dikerjakannya saat ini adalah pekerjaan hina. Seumur hidup pun tak pernah terbayangkan kalau suatu saat nanti ia terjerumus dalam lembah hitam.
Di sekolah dulu Dira terbilang murid yang pandai. Ia juga pandai baca tulis Al Quran. Hanya karena ketidakmampuan orang tuanya, ia terpaksa harus berhenti sekolah dan menikah atas keinginan kedua orangtuanya. Padahal saat itu ia baru duduk di kelas satu Madrasah Aliah Negeri (MAN) di desanya.
‘’Nasib sudah mentakdirkan saya seperti ini. Tidak mungkin juga saya bekerja seperti ini terus. Suatu saat karena usia dan, mungkina tidak laku lagi, saya harus mencari pekerjaan lain,’’ katanya dengan logat Jawa yang kental.
Dira pun mengisahkan perjalanan hidupnya. Ia mengisahakan saat masih perawan dulu ia pernah bekerja sebagai buruh pabrik rokok sambil bersekolah. Ia bertugas di bagian lintingan. Empat tahun ia bekerja. Hingga suatu hari ia di lamar oleh tetangga desanya.
Dira yang mengaku bernama lengkap Lestari Intan Astuti ini mau saja menerima lamaran itu. Padahal, lelaki yang melamarnya itu sama sekali tak pernah ia kenal. Kedua orangtuanyalah yang menyarankan untuk menerima pinangan lelaki itu. Apalagi usianya saat itu untuk ukuran orang sekampungnya dianggap sudah layak untuk berumah tangga, yakni 16 tahun. Malah, kata Dira, beberapa kawan sedesanya ada yang sudah punya dua anak di usia 16 tahun.
“Apa boleh buat. Aku tidak bisa menolak. Apalagi kedua orang tuaku sudah menerima lamaran lelaki itu,” katanya sambil memainkan sebatang rokok di jarinya.
Jadilah Dira menikah. Awal-awal pernikahannya ia masih diizinkan bekerja di pabrik. Sampai akhirnya ia mengandung. Masuk bulan ke lima ia mengundurkan diri. Suaminya sendiri yang tak punya pekerjaan tetap memilih untuk merantau.
‘’Awalnya aku tak merestui menjadi TKI. Namun karena ada beberapa teman sekampung yang berhasil setelah merantau, aku pun mengizinkannya pergi. Dengan harapan dari hasil bekerja di perantauan suamiku bisa setiap bulan mengirim uang. Di kepalaku hanya ada satu semoga suamiku berhasil dan hidup kami kelak bisa berubah,” kenang Dira.
Namun ternyata setelah anak pertamanya lahir, malah sampai memasuki usia dua tahun suaminya tak pernah ada kabar beritanya.
Dira bingung. Juga malu sama tetangga. Tiak mungkin berharap terus pada orang tua.
“Apalagi pendapatan orang tua saya juga tidak seberapa. Saya kasihan melihat orang tua saya. Harus membanting tuang menjadi buruh pabrik yang gajinya tidak seberapa,” ujarnya.
Dira pun harus kembali bekerja di pabrik. Anaknya yang belum setahun harus dititip di tetangganya. Tapi enam bulan bekerja, ia merasa tak mampu membiayai keluarganya. Apalagi ayahnya jatuh sakit. Malah sempat dioperasi di salah satu rumah sakit di Malang.
“Biayanya hampir Rp 10 juta. Seekor sapi dan lima ekor kambing terpaksa kami jual. Itu pun tak mampu menutupi utang keluargaku. Harapan ada kiriman uang dari suamiku dari Malaysia, pun tak kunjung datang. Jangankan uang, kabar beritanya pun tak kunjung ada,” tuturnya lirih.
Hingga suatu hari usai lebaran Idul Fitri, Vira – bukan nama sebenarnya – sahabat Dira sejak kecil mengajaknya ke Surabaya. Ia memang cantik. Kulitnya putih bersih. Di kedua pipinya dihiasi lesung pipi. Bibirnya mungil tipis. Hidungnya mancung. Matanya bulat dengan rambut yang dicat seperti orang bule. Penampilan Vira jauh berbeda dengan Vira lima tahun lalu. Ia tampak seperti boneka berby.
Menjelang magrib Vira datang berkunjung ke rumah Dira. Meski penampilannya sudah berubah, tubuhnya padat berisi, dengan penampilan bak selebritis, sifat Vira tak berubah. Ia tetap ramah. Senyumnya masih seperti dulu. Selalu merekah
Begitulah. Vira memulai percakapan. Awalnya menanyai keadaan rumah tangga Dira. Termasuk suaminya. Dira hanya terdiam. Ia menarik napas panjang. Vira tampak heran. Sebab, sejak ia di rumah kawannya itu Vira tak pernah melihat suami Dira. Ia menyangka Budi, suami Dira lagi ngojek.
Dira menceritrakan kalau sejak kepergian suaminya tiga tahun lalu tak pernah lagi ada kabar beritanya. Vira kaget. Barulah ia mengerti penderitaan kawannya sahabatnya itu.
Vira hanya mengangguk-angguk. Mereka terdiam beberapa saat. Dira pun hanya tertunduk. Ada rasa malu menatap sahabatnya itu yang dinilainya sudah sukses dengan pekerjaanya. Tak pembicaraan.
Maklum, kisah yang diamaili Dira mirip yang dialami Vira sebelum ia memilih jalan hidupnya. Suaminya juga pergi merantau. Di perantauan suaminya menikah lagi. Ia frustasi. Akhirnya ia pergi dari kampung meninggalkan anak semata wayangnya. Ia terpaksa bekerja sebagai kupu-kupu malam untuk membiayai anak, adik-adiknya dan kedua orang tuanya.
Vira masih mending. Sebab masih ada kabar tentang suaminya. “Aku, jangankan batang hidungnya. Kabarnya pun tak kunjung datang,” katanya.
Sebagai sahabat sejak kecil Vira dan Dira pun saling buka-bukaan. Vira memulai menceritrakan mengenai profesinya di Makassar. Tapi, ia minta tak menceritrakan kepada tetangga apalagi kepada orang tuanya. Aku hanya mengangguk,” kenang Dira.
Ternyata selama ini Vira menjadi wanita penghibur. Awalnya ia memulai profesinya di salah satu tempat hiburan di bilangan Kedung Doro, Surabaya. Karena nyaris ketahuan oleh keluarganya tiga tahun lalu ia hijrah ke Makassar.
Melihat kehidupan Vira yang begitu berubah, Dira pun tertarik. Ia mengakui ada rasa dendam terhadap laki-laki. Dendam itu hinggap dalam dirinyta. Ia tak berpikir panjang. Tak ada lagi dosa yang ia pikirkan.
‘’Yang penting, anakku bisa hidup. Aku memang bertekad ingin mengubah kehidupan keluargaku. Pekerjaan apa pun. Biarlah aku berkorban demi masa depan Senja – anakku,” begitu pikirnya.
Dira putus asa. Berbagai pekerjaan sudah ia lakukan. Mulai dari menjadi buruh pabrik rokok, buruh pemecah baru di sungai, mengumpulkan kayu bakar di hutan sebelah bukit di desanya untuk dijual, jadi buruh batu bata sampai membantu kedua orangtuaku menjadi petani penggarap ladang Pak Kades. Namun, hasilnya tak seberapa. Paling-paling hanya bisa membeli beras untuk dua hari, lalu habis.
Ingin berprofesi yang lebih terhormat, tidaklah mungkin. Dira sadar diri. Sebab ia hanya memiliki ijazah SLTP. Ia juga sama sekali tak memiliki keterampilan yang bisa diandalkan.
“Terus terang, satu-satunya keterampilan yang bisa kubanggakan saat ini hanyalah memberi pelayanan bagi laki-laki di atas ranjang. Kepada siapapun laki-laki yang bisa memberikan aku uang,” katanya pasrah.
Ia menyadari dibalik profesinya itu, ia masih bersyukur. Karena Tuhan telah memberiku kelebihan. “Dari sekian banyak laki-laki yang meniduriku, semua mengatakan aku cantik,” ucapnya tersenyum.
Dira memiliki tubuh yang sedang. Tinggiku hanya 158 Cm. Wajah, mirip Nafa Urbach. ‘’Itu kata orang. Tapi, aku tak merasa seperti itu. Aku merasa biasa-biasa saja. Mugkin karena itu aku tak pernah sepi orderan,” ungkapnya .
Sehari Dira bisa menerima tamu sampai lima orang. Dalam keadaan datang bulan pun kadang ada tamu yang membookingnya. Tentu saja tidak di atas ranjang. Kadang hanya menemani duduk sambil ngobrol berjam-jam.
“Lumayan, untuk nambah-nambah penghasilan. Itu belum termasuk tip yang diberikan tamu,” sebutnya.
Dalam menggaet tamu Dira mengaku berupaya melayaninya sebaik mungkin. Dengan harapan, mereka besok datang lagi. Malah, banyak tamu yang menunggunya. ‘’Biar penasaran, aku merayu tamuku untuk membooking aku berjam-jam dalam kamar. Itu caraku agar sehari aku tidak ditiduri banyak lelaki yang berbeda-beda,” sebut Dira.
Di kamar Dira mengaku hanya melayani tamunya sekali. Setelah itu ia ngobrol ngloro-ngidul.
‘’Aku lebih suka dengan tamu yang sudah berumur dari pada anak muda. Bedanya, tamu yang berumur selain berduit, mereka mudah dirayu. Permintaanya juga ngga macem-macem. Mainnya, paling sekali. Ngga lama lagi. Sekali dua kali goyang, muntah deh. Ha…ha…ha…,” cerita Dira sambil tertawa.
‘’Kalau anak-anak muda, uda pelit, uangnya pas-pasan mintanya macem-macem lagi. Minta diservicelah. Minta gaya ini dan itu. Pokoknya macam-macam. Kebanyakan dari mereka menang tampang doang. Duitnya pas-pasan,” cetusnya.
‘’Mau ambil duit dimana? Kalau ngga nyolong, make uang SPP atau uang kuliah yang ditilep. Tiba masa pembayaran, baru pusing. Hahah…haha…ha…,” lanjutnya terpingkal-pingkal.
Begitulah. Usai lebaran Dira pamit pada kedua orang tuaku. Awalnya ia mengaku berat meninggalkan putri satu-satunya. Apalagi ia masih kecil. Saat itu ia masih berusia satu tahun lebih. Namun, tekadnya sudah bulat. “Aku harus merantau. Semua demi anakku,” katanya dengan wajah serius.
Tak terasa empat tahun lebih ia menekuni profesinya itu. Secara finansial ia bisa menutupi kebutuhan hidup keluarganya. Malah, rumahnya yang dulu berbahan bambu beratap rumbia kini telah menjadi rumah batu permanen. Dira malah sudah membeli dua petak sawah yang digarap oleh orang lain di desanya. Plus lima ekor sapi dan beberapa ekor kambing. Ia juga sudah tak berutang.
‘’Tapi, di sisi lain aku haru menanggung malu. Meski di kampungku tidak banyak yang tahu profesiku tapi apa pun namanya, kelak akan ketahuan juga. Apa boleh buat. Ini sudah risiko. Aku pun menyadari suatu ketika aku sudah tidak laku lagi. Makanya selama bekerja menjadi lonte di Makassar aku ikut kursus kecantikan di salon. Ada Papiku yang membiayai,” katanya.
Tidak hanya itu. Untuk menambah pengetahuan Dira juga ikut kursus Bahasa Inggris.
‘’Siapa tahu besok lusa ada orang asing yang ingin memperistri aku. Kan ga susah komunikasinya seperti teman aku yang dinikahi bule Italia. Sekarang malah sukses bukan restoran di Lombok dan Bali,’’ ujar Dira. (Bersambung).
Penulis : Asri Syahril





