Animasi Peringati 4 Tahun Insting UNM Dengan Aksi Teatrikal Jalanan

Aksi Aliansi Mahasiswa Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Makassar (Animasi FE UNM) memperingati Insiden Tiga Belas November (Insting).

InfoSulsel.com, Makassar – Aliansi Mahasiswa Akuntansi (Animasi) Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Makassar (FE UNM) menggelar aksi peringatan momentum Insiden Tiga Belas November Gunung Sari (Insting) 2014, Selasa (13/11/2018).

Insting 2014 merupakan tragedi penyerangan represif oknum kepolisian kepada mahasiswa UNM hingga ke dalam ketika hendak mengamankan aksi demonstrasi penolakan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Jl. A. P. Pettarani, 13 November 2014 silam.

Bacaan Lainnya

Tidak hanya mahasiswa, beberapa dosen dan wartawan yang meliput kejadian tersebut tidak lepas dari aksi brutal oknum kepolisian.

Memperingati momentum empat tahun setelah tragedi tersebut, Animasi FE UNM menggelar aksi teatrikal di mana ada yang berperan sebagai polisi dan mahasiswa. Deretan mahasiswa juga melakukan body painting bertuliskan Insting sehingga menjadi pusat perhatian masyarakat.

Jendral Lapangan (Jenlap) Aksi, Afdal, mengatakan aksi peringatan momentum ini sebagai ajang refleksi bahwa ada kisah kelam yang dirasakan oleh mahasiswa pada saat itu.

“Maka dari itu, kami menolak segala bentuk tindakan represifitas aparat keamanan terhadap mahasiswa,” ujarnya saat orasi di depan Gedung Phinisi UNM.

Mahasiswa asal Parepare ini menganggap, momentum Insting merupakan hal yang menjadi keharusan untuk diperingati. Mengingat, semangat demokrasi tentunya akan bersangkut paut dengan kebebasan berpendapat.

“Segala bentuk penolakan tindakan represif harus terus menerus kita suarakan. Kita tidak ingin kejadian empat tahun silam itu terjadi lagi hari ini dan di masa yang akan datang,” terangnya.

Sementara itu, salah satu massa aksi, Irfan, mengatakan sampai hari ini bentuk tindakan represif tidak hanya dirasakan pada tragedi Insting. Namun, enam mahasiswa FE UNM yang diskoring pun merasakan tindakan represif.

Menurutnya, lahirnya Surat Keputusan (SK) skorsing terhadap mahasiswa FE UNM yang awalnya hanya menyatakan pendapat di muka umum merupakan tindakan represif yang lebih elegan dilakukan pihak birokrasi kampusnya.

“SK skorsing itu merupakan roh dari orde baru yang dikemas elegan dengan tinta hitam di atas putih. Mau Isnting, mau skorsing, poinnya sama-sama hanya menyampaikan pendapat dan kita tetap diperlakukan tidak adil sampai detik ini,” ungkapnya.

“Padahal SK skorsing itu telah dinyatakan maladminiatrasi oleh Ombudsman Sulsel yang juga sudah mengeluarkan LAHPnya,” sambungnya.

Dketahui, ada lima poin isu yang dilayangkan oleh Animasi FE UNM. Yakni, menolak segala bentuk represifitas aparat keamanan terhadap mahasiswa, polisi adalah pengaman bukan petarung, wujudkan demokratisasi kampus, cabut SK skorsing enam mahasiswa FE UNM, dan sarjanakan Filtra Absri.(**)

Penulis: Rhenno.
Editor: Adriyan.

Pos terkait