INFOSULSEL.COM, MAKASSAR – Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) secara mendadak membatalkan secara sepihak laga final leg kedua Piala Indonesia antar PSM Makassar versus Persija Jakarta. Faktor keamanan jadi alasan. utama.

Laga ini sedianya akan berlangsung Ahad (28/7/2019) sore di Stadion Mattoanging, Makassar. Surat resmi pembatalan laga tersebut dilansir melalui laman resmi PSSI, Ahad kemarin. Belum ada keterangan resmi kapan laga tunda tersebut dilaksanakan. Pasalnya Sekretaris Jendral (Sekjen) PSSI Ratu Thisa tidak muncul di Stadion Mattoanging untuk memberikan klarifikasi.
Dari video yang beredar Ratu Thisa langsung ngacir terbang kembali ke Jakarta sebelum sampai ke venue pertandingan. Puluhan ribu suporter PSM yang sudah memenuhi stadion yang berdiri sejak 1956 itu pu keceea. Meski begitu mereka tidak melampiaskan kekecewaannya dengan cara-cara anarkis. Justru mereka lakukan dengan cara simpati dengan terus bernyanyi memberi semangat kepada pemain, pelatih dan offisial yang sempat menemui mereka di tengah lapangan.

Antusiasme pendukung PSM yang datang penjuru nusantara, Papua, Kalimantan, Sumatera, Jawa dan Pulau Sulawesi terlihat di stadion. Mereka bersatu demi mendukung tim kebanggan mereka yang berpeluang mengakhiri dahaga gelar selama 19 tahun.
‘’Sejak dua hari lalu seluruh kelompok suporter PSM telah melakukan konsolidasi. Temasuk dengan suporter Persija. Kami sepakat di depan aparat keamanan untuk tidak melakukan hal-hal yang dapat merugikan tim,” tegas Sekretaris Jendral Red Gank Sadakati Sukam RG kepada INFOSULSEL.COM, Ahad sore.
Pembatalan laga final ini juga disesalkan Panglima Laskar Ayam Jantan (LAJ), Uki Nugraha. Lelaki yang akrab disapa Deng Uki ini malah menyebut PSSI terlalu berlebihan dalam memutuskan sesuatu.
‘’Kalau soal keamanan, saya kira aparat keamanan di Makassar sudah sangat siap. Bahkan jumlah personil sudah ditambah 4000-an orang. Kami suporter juga siap mengamankan anggota kami. Alasan apa lagi. Ada apa dengan PSSI,” cetus Deng Uki dengan suara bergetar.

Presiden The Maczman Ocha Alim pun mengecam dan menyesalkan sikap Ratu Tisha yang sangat kekanak-kanakan dan tidak mempertimbangkan secara matang keputusannya. Keputusan yang tidak populer ini justru semakin meyakinkan dugaan Ocha, sapannya kalau PSSI berpihak ke salah satu tim.
Sejak awal Sekjen PSSI diduga sudah melempar sinyal keberpihakan kepada salah satu tim.
‘’Kalau PSSI menghendaki tim lain juara, tidak perlu ada partai final. Kami suporter PSM meski sudah lama tim kami tidak juara tapi kami tidak ingin menjadi juara dengan cara-cara tidak terhormat. Harga diri kami lebih dari segalanya dari pada sekedar juara. Menjadi juara tidak mesti dengan cara-cara kotor,” tegas wartawan senior ini.
Seluruh suporter PSM menyebut sebagai Sekjen PSSI Ratu Tisha tidak punya nurani. ‘’Pernah tidak Si Ratu Tisha itu memikirkan berapa kerugian yang diderita puluhan ribu suporter PSM dan Persija dengan kebijakan konyol ini,” cetus Sadat.
Bukan tanpa sebab Sadat menegaskan hal ytersebut. Menurut dia Ratu Tisha tak pernah berpikir bahwa ribuan suporter dari seluruh penjuru nusantara datang ke Makassar hanya untuk menyaksikan laga final ini.
‘’Mereka meninggalkan keluarga, mengorbankan waktu, tenaga dan finansial mereka demi menyaksikan laga final,” kata Sadat.
Ocha menimpali bahwa kejadian yang berbuntut pembatalan laga final di Makassar akibat ulah oknum tertentu yang tidak ingin melihat PSM juara.
‘’Mereka senang jika partai final tidak dilaksanakan di Makassar. Karena itu para suporter sepakat bahwa leg kedua final Piala Indonesia tetap dilaksanakan di Makassar,” kata Ocha yang diikuti Deng Uki, dan Sadat.
‘’Saya juga yakin ada okum yang ingin membuat situasi tidak kondusif di Makasar,” timpal Sadat.
CEO PSM Munafri Arifuddin tak kalah kecewanya. Namun Appi, sapaan anak menantu Aksa Mahmud, pendirir Bosowa Corporation ini mencoba menahan diri. Didampingi Penjabat Walikota Makassar M Iqbal S Suhaeb dan Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Wahyu Dwi Ariwibowo menenangkan puluhan ribu suporter.
Di bawah terik matahari di tengah lapangan Appi, menceritakan bagaimana usaha panitia pelaksana untuk menjamin keamanan pemain dan official Persija.
“Kami bersama Kapolrestabes, Wali Kota Makassar, seluruh suporter menjamin keamanan pemain Persija hingga tidak lecet sedikitpun,” tegas Munafri.
“Namun rilis PSSI sudah keluar. PSSI menunda laga dengan alasan pertimbangan keamanan,” ujarnya.
Pihaknya tetap akan menunggu jadwal dan lokasi leg kedua setelah adanya penundaan ini. Namun, Appi menegaskan PSM akan menolak jika harus bermain di luar Makassar. “Kami tetap inginkan main di Mattoangin, dan menolak main di luar. Jika harus bermain di luar Makassar, lebih baik kami keluar,” ujar Appi dengan nada lantang.
Mewakili Panitia Pelaksana (Panpel) PSM yang bertugas meminta maaf kepada seluruh suporter yang telah hadir di Stadion Mattoangin.
“Soal tiket saya serahkan ke Panpel. Mereka tahu teknisnya, intinya agar tidak ada yang dirugikan,” ujar pria 43 tahun tersebut.
Sementara itu menanggapi surat penundaan yang dikeluarkan PSSI di mata Yusuf Gunco, lawyer senior di Makassar menyebut cacat hukum.
‘’Apa PSSI melihat situasi di sekitar Stadion Mattoanging sebelum memutuskan penundaan tersebut. Memang ada apa di sana. Apa ada kejadian yang sangat luar biasa dan keadaan terdesak atau overmag? Kan tidak ada. PSSI terlalu berlebihan dalam mengambil keputusan,” ujar Gunco.
Ia meminta kepada CEO PSM Makassar untuk melakukan gugatan class action agar kedepannya PSSI tidak lagi seenaknya mengambik keputusan yang dapat merugikan semua pihak.
Di lain pihak Polda Sulsel meyakini alasan penolakan Persija tidak dapat diterima. Menurut Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Dicky Sondani, pengamanan maksimal telah diterapkan untuk mengawal pertandingan itu dengan menurunkan ribuan personel kepolisian.
“Polda Sulsel beserta jajaran Polrestabes Makassar, Polres Gowa, Polres Pangkep, Polres Maros, Polres Takalar dan Polres Pelabuhan sejumlah 4.000 personel sudah melakukan pengamanan secara maksimal. Kalau ada pihak yang menyatakan situasi tidak aman adalah hoaks,” tegas Kombes Dicky.
Aparat kepolisian juga diketahui telah meredam kekecewaan para para penonton, hingga tidak berbuat anarkis. Terkait peristiwa pelemparan bus yang ditumpangi Persija disebut sebagai insiden dari beberapa oknum yang kesal tidak mendapatkan tiket pertandingan.
(Asriel)





