Jelang Pilkada Serentak, Psikolog UNM : Pemilih, Didasarkan Oleh Dua Aspek

  • Whatsapp

INFOSULSEL.COM, MAKASSAR – Dekan Fakultas Psikologi UNM, Prof. Dr. Muhammad Jufri, S.Psi., M.Si menyebutkan, ada dua aspek perspektif pemilih dalam menentukan pilihan pada Pilkada serentak 2020.

Dua hal tersebut, masing-masing memiliki kedudukan yang signifikan dalam menentukan arah pilihannya, yakni dasar rasional dan relasional.

“Rasional itu dia akan memilih sesuatu, berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang logis. Logisnya itu dilihat pertama dari apakah orang yang saya pilih itu bisa menjawab motif-motif atau dorongan-dorongan yang muncul untuk dari diri saya dalam memenuhi kebutuhannya,” ujar Jufri kepada INFOSULSEL.COM, Kamis (13/2/2020).

“Kedua, orang yang memilih karena apa yang dia pahami tentang isu-isu politik, isu-isu yang berkembang di masyarakat, makin bagus pemahamannya, misalnya bahwa kalau ini yang saya pilih dia akan menunjukkan kinerja yang baik dalam pemerintahan,” tambahnya.

“Maka secara logika dia akan mengatakan saya tidak akan memilih yang lain, karena orang ini saya jamin kemampuannya bisa membawa daerah ini jauh lebih baik,” terang Jufri.

Sementara, aspek Relasional, tidak mengedepankan perspektif kompetensi figur, melainkan karena hubungan oleh pemilih yang bervariasi.

“Relasional dia tidak akan mempersoalkan kompetensinya, dia lebih kepada pilihan-pilihan personal misalnya dia itu tetangga saya. Dia itu kenalannya, dia itu teman kelompoknya, ataukah dia temannya temannya,” imbuh Jufri.

Selain itu, kata Jufri, menanggapi terjadinya penurunan partisipasi pemilih di kota Makassar didasari oleh sifat apatis.

“Kalau Golput dikatakan orang yang ogah politik. Bersifat apatis, dia tidak merasa keterlibatan karena dia tidak merasa bahwa ikut dan tidak ikut tidak ada hubungannya dengan saya. Tidak akan mempengaruhi pilihan saya,” ungkap Jufri.

Terakhir, Jufri menegaskan, pemilih yang menggolongkan masuk ke dalam golongan putih (golput) bukanlah pilihan yang baik untuk sebuah demokrasi.

“Kita ini warga negara yang baik, harus bisa membuktikan, menunjukkan bahwa kita memiliki hal politik yang harus disalurkan sesuai dengan regulasi yang ada, ketentuan yang ada. Bahwa memang kita boleh memilih apa yang kita mau, memilih lah tetap memposisikan diri kita sebagai warga negara yang baik,” tandas Jufri.(andi)

Pos terkait