INFOSULSEL.COM, MAKASSAR-— Kasus tumpahan minyak milik Pertamina yang terjadi sejak Rabu (20/5/2020) lalu masih mencemari sebagian bibir Pantai Makassar. Warna air laut masih menghitam. Ceceran minyak masih terlihat di bagian selatan Pelabuhan peti kemas, belakang Popsa dan Cafe Ombak Marina.
Dari pantauan INFOSULSEL.COM, Senin (1/6/2020) pagi sampai siang warna air laut masih terlihat agak menghitam. Belum ada masyarakat yang melakukan aktivitas berenang. Padahal tempat ini sudah puluhan tahun dijadikan sebagai spot untuk menikmati suasana laut sambil berenang di pagi dan sore hari.

Masalah lingkungan yang ditimbulkan diprediksi akan memakan waktu lebih lama untuk pemulihan. Gumpalan pasir yang bercampur minyak tampak masih terlihat. Bentuknya sebagian bulat, sebagian lagi pipih menyerupai batu apung. Cairan kental bertekstur lengket masih nampak di pilar dan tembok pantai sebelah selatan dermaga peti kemas Pelabuhan Makassar.
Pemilik Cafe Ombak Andi Januar Jaury Dharwis mengeluhkan kondisi ini. Sebab warna air laut masih menghitam. Kondisi ini sangat terasa manakala air laut surut.
‘’Sebelum terjadinya tumpahan minyak, air laut di sini sangat jernih. Masyarakat juga menjadikan tempat ini untuk berenang. Begitu juga dengan masyarakat yang hobby memancing. Sekarang sudah tidak ada lagi aktivitas warga yang berenang,” keluh Andi Januar.
Hal senada dikatakan Reza Ali. Mantan anggota DPR RI ini mengaku usaha restoran yang dikelolanya merugi. Sebab banyak konsumen yang sudah reservasi, membatalkan reservasinya.
‘’Banyak masyarakat yang sudah reservasi terpaksa batal akibat bau yang sangat menyengat,’’ cetus Reza Ali.
Begitu juga dengan jasa angkutan antar pulau yang dikelolanya, sepi orderan. Masyarakat yang biasanya menggunakan kapal ke Pulau Kayangan atau ke Gusung untuk berenang atau memancing, mengurungkan niatnya karena kualitas air yang tidak bagus. Akibatnya omsetnya turun sampai 80 persen.
Ia meminta pihak Pertamina tidak tinggal diam. Sebab jenis minyak yang tumpah merupakan jenis minyak berat yang jika tidak ditangani secara serius gumpalan pasir bercampur minyak mentah akan terus melengket di tembok pembatas dan menggenangi sepanjang pantai.
‘’Jika tidak ditangani secara serius dampak tumpahan minyak ini akan merusak lingkungan. Coba lihat warna air di sini, masih berwarna hitam,” kata Reza Ali.
Ia mengaku pihak Pertamina seakan lepas tangan. Alasannya aktivitas pembersihan dilakukan seadanya. Itupun hanya tiga hari. Setelah itu tak ada lagi aktivitas pembersihan.
Sejumlah komunitas perenang laut mengaku akan menggugat Pertamina jika masalah pencemaran laut ini diabaikan.
‘’Pertamina sepertinya mau lepas tanggungjawab. Padahal ini masalah lingkungan. Pencemaran lingkungan harus disikapi serius. Jangan main-main,” kata Suardi, salah satu komunitas perenang yang mengaku tiga kali seminggu di akhir pekan berenang di sekitar Ombak Cafe, Kayangan dan Gusung.
Ia mengaku jika kualitas air laut dibiarkan terus seperti ini Suardi dan kawan-kawan berencana akan menggugat Pertamina.(riel)





