Muh Ridwan pun langsung dibawa ke UGD. Menurut Meike Andi Baso, salah satu suster yang merawat, kakek berusia 78 tahun itu sudah sekitar 10 hari sesak napas. ‘’Tapi bukan covid,” katanya.
Ia mengaku berterima kasih kepada Adi Rasyid Ali yang bersedia mengevakuasi warga yang sakit menggunakan mobilnya.
‘’Sudah lama kami mau bawa ke rumah sakit. Tapi kendaraan susah masuk ke Desa Maipi. Kalau ada warga yang sakit harus digotong sampai ke ujung jalan desa yang cukup jauh,” ujar suster Mieke.
Desa Maipi salah satu desa yang terisolir akibat banjir bandang. Jalan dan dua jembatan yang menghubungkan desa ini terputus dan tertimbun lumpur padat dan material kayu- gelondongan.
Asbir, Kepala Desa Maipi menyebut, kerusakan yang terjadi itu membuat akses penghubung ke beberapa desa termasuk ke Kecamatan Rampi ikut terputus.
“Ada dua jembatan beton dan dua jembatan gantung yang terputus. Salah satu jembatan beton yang terputus tersebut letaknya di Tandung Desa Baloli. Itu adalah jembatan penghubung lima desa dan salah satu akses menuju ke Rampi,” tuturnya.
Selain infrastruktur jembatan yang terputus, akses jalan ke Desa Maipi juga rusak parah disertai listrik mati total. Ini mengakibatkan penyaluran logistik mengalami kesulitan, sedangkan jarak dari kota Masamba, red ke Desa Maipi berkisar 10 kilometer.
Untuk diketahui, rumah warga yang terbawa arus banjir di desa ini ada 10 rumah. Sementara yang terdampak sedikitnya 26 rumah. Desa Maipi dihuni hanmpir 1000 jiwa jiwa.(Sri Syahril)






