INFOSULSEL.COM, MAKASSAR – Kapal Vessel milik PT Royal Boskalis terpantau kembali menambang pasir laut di wilayah tangkap nelayan pada, Kamis, 16 Juli 2020. Hal tersebut diketahui saat seorang nelayan sedang memancing ikan di laut yang merupakan tempat mereka mencari ikan.
Dalam keterangan yang diterima infosulsel.com, Jumat (17/7/2020), seorang nelayan yang berinisial KR mengaku, Kapal Vassel milik Boskalis menambang pasir di wilayah tangkap utama nelayan memiliki jarak yanh sangat dekat dengan Pulau Kodingareng.
“Saya melihat secara jelas bahwa Boskalis menambang diwilayah kami selalu memancing ikan. Ini tidak boleh dibiarkan,” Jelas KR.
Selain itu, dia mengatakan bahwa kembalalinya PT Boskalis menambang pasir laut di wilayah tangkap nelayan Kodingareng itu layaknya penjajahan terhadap nelayan.
“Kami seluruh nelayan Pulau Kodingareng merasakan kembali penjajahan Belanda. Boskalis selama melakukan kegiatan tambang tidak pernah menghormati kami sebagai warga Indonesia. mereka tidak pernah menghormati pekerjaan, budaya kami. Ini seperti penjajahan,” beber KR.
KR menjelaskan, perusahaan rekanan Boskalis saat ini sedang membujuk masyarakat agar menerima sejumlah imbalan agar aktivitas tambang di sekitar Pulau Kodingareng berjalan lancar meskipun sangat berdampak buruk bagi lingkungan.
“Mereka pun membujuk kami dengan sejumlah bantuan dan uang, namun masyarakat tolak,” tuturnya.
“PT Benteng Lautan Indonesia dan PT Royal Boskalis sudah menggunakan cara-cara kotor untuk memuluskan proyek tambang pasir laut. Sudah banyak nelayan yang ditawari uang dan bantuan serta ancaman-ancaman, namun masyarakat tolak. sekarang yang sudah ambil uang dari perusahaan hanya 4 orang, itupun mereka bukan nelayan,” tambah KR.
Sebagaimana diketahui bahwa proyek tambang pasir laut yang dilakukan PT Royal Bosklasi telah diberhentikan selama 10 hari. Mereka pun berjanji tidak akan menambang sebelum ditandatangani perjanjian antara nelayan dan pihak perusahaan.(gun)





