Raditya mengatakan, BPBD setempat juga mengidentifikasi kebutuhan mendesak untuk warga terdampak berupa air bersih, obat-obatan, pakaian dalam wanita, popok balita dan lansia, selimut, sarung, peralatan pembersih rumah, family kits dan masker.
Raditya mengatakan, pendataan untuk kerugian material bangunan pascabanjir bandang juga masih terus dilakukan. Data sementara hingga hari ini, kerugian mencakup rumah terdampak 4.202 unit, mikro usaha 61, tempat ibadah 13, sekolah 9, kantor pemerintah 8, fasilitas kesehatan 3, fasilitas umum 2, dan pasar tradisional 1.
“Banjir juga merusak lahan produktif berupa lahan pertanian dan persawahan seluas 460 hektare,” kata Raditya Jati.
Sementara kerugian infrastruktur meliputi jalan terdampak sepanjang 12,8 km, jembatan 9 unit, pipa air bersih 100 meter, bending irigasi 2 unit. Akses beberapa jalan poros masih terputus. “Seperti Masamba-Baebunta dan jalan di Kecamatan Sabbang menuju Desa Malimbu masih tertimbun lumpur dan hanya dapat dilalui roda dua,” ujarnya.
Selain itu, banjir bandang menyebabkan kerusakan jaringan pipa air bersih PDAM. Ini berdampak pada suplai air sulit, bahkan PDAM masih belum beroperasi. Infrastruktur jaringan listrik juga belum semua beroperasi dan terdapat beberapa titik masih padam. Sedangkan jaringan komunikasi belum stabil.
Sementara itu, dalam upaya penanganan darurat Tim Reaksi Cepat BPBD masih melakukan kaji cepat kebutuhan di lokasi yang terisolasi. BPBD juga menerjunkan alat berat untuk membersihkan material lumpur, khususnya di akses jalan sehingga dapat mempermudah distribusi bantuan dan mobilitas warga.
Di sisi lain pemerintah daerah setempat masih terkendala alat berat untuk pembersihan material lumpur maupun kendaraan operasional untuk mendistribusikan bantuan logistik dan pengerahan sukarelawan. “Pantauan di lapangan, banyak akses jalan yang masih belum dapat dilalui oleh kendaraan,” ujarnya.(riel)






