Tidak Mau Jatuh di Lubang yang Sama, ARA : Demokrat Bukan Partai Keledai

Ketua DPC Partai Demokrat Kota Makassar Adi Rasyid Ali .(FOTO: SRI SYAHRIL)

Dari delapan nama yang dikirim, ARA kembali menegaskan partainya tidak akan memberikan isyarat kepada kandidat yang banyak bohongnya. Bahkan, kata dia, dalam proses menuju Pilkada semua akan terbongkar diantara orang yang bisa dipercayai dan mana orang pembohong.

“Semua punya potensi. Tetapi suatu saat masyarakat akan menilai mana pemimpin yang komitmen dan konsisten dan bisa dipegang kata-katanya. Mana pemimpin lebih yang banyak bohong atau benarnya,” cetus adik kandung politisi senior dan deklarator Partai Demokrat, A Reza Ali, ini.

Bacaan Lainnya

ARA tidak menyebut siapa bakal calon yang dimaksud banyak berbohong. Yang pasti ia menegaskan Partai Demokrat tahu cara menang.

“Saya tidak menyebut nama, ya. Tetapi masyarakat harus pintar menilai siapa calon  walikotanya nanti. Jangan terbuai dengan kata-kata, janji-janji dan retorika yang belum pasti. Masyarakat butuh kepastian, bukan janji-janji palsu,” tegas  ARA.

Ketua Pengorov Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pertina) Sulsel ini mengingatkan kepada semua bakal calon bahwa partai yang kini dipimpin oleh Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) tersebut merupakan partai yang sangat tertib dalam mengurus soal Pilkada.

“Siapapun yang mengurus di DPP maka pasti akan disuruh berkomunikasi dengan DPC.  Tidak ada bisa langsung ke DPP mengambil by fast untuk mengurus Pilkada. Itu nggak ada. Semua harus lewat DPC, DPD dan DPP. Dan hampir pasti siapapun yang mengurus ke DPP ketemu sama siapa, pasti jawabannya suruh ketemu sama DPC,” jelas Ketua Pengda Indonesia Off-Road (IOF) Sulsel, ini.

“Itulah sistem di Partai Demokrat. Sejak dulu  Pak SBY dan sekarang pak AHY memberikan aturan main bahwa jangan pernah melewati mekanisme yang ada. Boleh ketemu sama siapa saja di DPP,  tetapi mekanisme di partai Demokrat pasti berjalan,” jelas ARA. (andi/riel)

Ketua DPC Partai Demokrat Kota Makassar Adi Rasyid Ali saat mensosialisasikan Kolom Kosong (KOKO) pada 4 Mei 2018. Saat itu Partai Demokrat satu-satunya partai yang mengusung Danny Pomanto berpasangan Indira Mulyasari (DIAmi) di Pilkada Makassar yang belangsung pada 27 Juni 2018. Sementara pasangan lainnya Munafri Arifuddin- Rachmatika Dewi (APPI-Cicu) diusung 10 partai. Pilkada Makassar 2018 hanya diikuti satu pasangan calon walikota dan wakil walikota (calon tunggal), setelah pasangan calon petahana DIAmi didiskualifikasi oleh Mahkamah Agung (MA). Hasilnya, Kolom Kosong menang di 13 kecamatan dengan perolehan suara 300.795, sedangkan APPI-Cicu menang di 2 kecamatan dengan jumlah suara 264.245. Total perolehan suara 565.040.(FOTO: SRI SYAHRIL)

Pos terkait