INFOSULSEL.COM, MAKASSAR –– Sekitar 1.671 pengungsi dari berbagai negara masih bertahan di Makassar, Sulawesi Selatan. Mereka tersebar di 22 tempat pengungsian atau community house. Ada yang sudah tinggal lima sampai tujuh tahun lebih. Para pengungsi di bawah penanganan langsung International Organization for Migration (IOM) dan Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim), Makassar
Kepala Rudenim Makassar Togol Situmorang menjelaskan jumlah pengungsi di Makassar masih cukup banyak dan tersebar di sejumlah tempat. ‘’Sekitar 1.660 orang. Ada yang tinggal sudah lima tahunan. Mereka menyebar di beberapa tempat,” jelas Togol Situmorang, Selasa (29/9/2020).
Menurut Togol sudah banyak yang mengajukan kembali ke negara asalnya atau yang dikenal dengan istilah Assisted Voluntary Return (AVR). ‘’Kebetulan kita ada program pemulangan secara sukarela atau AVR bagi para imigran ke negara asal. Ini diharapkan mampu mengurangi jumlah pengungsi,” di Makassar.
Pertimbangan para pengungsi mengajukan permohonan kembali ke negaranya karena mengetahui situasi dan kondisi negara mereka sudah mulai kondusif. Negara-negara yang umumnya dilanda konflik seperti di wilayah Timur Tengah, Afganistan, Somalia dan lainnya menyebabkan warganya berinisiatif untuk mengungsi ke negara lain.
“Bagi negara yang berkonflik, perang saudara dan lainnya itu membuat warganya mencari suaka ke luar negeri. Di negara-negara yang sudah mulai kondusif, para pengungsi juga sudah banyak ajukan diri untuk dipulangkan,” katanya.
Dari 1.700 an pengungsi tersebut ada satu keluarga pengungsi Etnis Rohingya asal Myanmar baru saja resmi menjadi warga negara Amerika Serikat (AS) setelah mengungsi selama 7 tahun di Makassar.
Satu keluarga tersebut adalah keluarga Mohammad Islam bin Nur Alam. Ia istri dan tiga anak mengaku sangat bahagia. Penantiannya selama 7 tahun terbayarkan setelah hidup tanpa kepastian.






