Ancaman Resesi, Masyarakat Dituntut Hidup Sederhana

  • Whatsapp

INFOSULSEL.COM, MAKASSAR – Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kota Makassar, Irwan Bangsawan berpandangan, dampak resesi ekonomi dapat berpotensi menghasilkan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK). Alasannya, kuantitas pekerja dinilai akan berpengaruh sehubungan dengan tergerusnya pendapatan perusahaan.

Bahkan, Irwan mengakui saat ini Disnaker Kota Makassar telah menangani kasus PHK akibat resesi tersebut. “Sekarang sudah ada, kita tangani beberapa karyawan yang di PHK sebagai dampak resesi ini,” ujar Irwan belum lama ini.

Muat Lebih

Irwan secara tegas mengatakan, akan mengawasi kondisi para buruh atau pekerja bilamana didapati PHK atau dirumahkan. Maka, haknya harus dipenuhi karena telah melaksanakan kewajibannya. “Jika mereka tidak mendapatkan hak nya, bisa dilaporkan ke kami,” lugas Irwan.

Anggota Komisi B Bidang Ekonomi dan Keuangan DPRD Kota Makassar, Hasanuddin Leo menanggapi, bahwa pemerintah kota mesti waspada dan antisipatif terhadap ancaman tersebut.

Soal ancaman gelombang PHK akibat resesi ekonomi ditengah pandemi covid-19 ini pemerintah dituntut tangkas merespon masalah dan segera melakukan langkah taksis dan bijak melihat persoalan.

“Memang yang namanya resesi ini sudah mengglobal. Saya kira persoalan resesi dunia ini akan berdampak pada pemerintah di seluruh indonesia termasuk di kota Makassar. Oleh karenanya pemerintah harus hadir untuk menjembatani antara kepentingan masyarakat dan kepentingan pengusaha atau perusahaan yang ada,” terangnya saat dihubungi, Jumat (30/10/2020).

Dampak resesi ekonomi sudah dipastikan akan berdampak pada seluruh daerah di Indonesia. Menurutnya, untuk kota Makassar,  pemerintah sangat dibutuhkan untuk menjadi mediator antara masyarakat dengan perusahaan atau pengusaha dalam meminimalisir dampak buruk resesi ekonomi.

Responsif legislator tiga periode ini pihaknya akan ia bicarakan dengan pemerintah kota guna menghasilkan solusi dan bisa memperkecil kemungkinan adanya ancaman gelombang PHK.

“Kami akan mengundang pemerintah dalam hal pemerintah kota, memikirkan bersama-sama apa yang harus dilakukan berupa kebijakan-kebijakan. Sebelum mengambil kebijakan, pemerintah harus melihat kondisi real yang ada dimasyarakat untuk mengambil kebijakan yang terbaik bagi masyarakat, tujuannya untuk meminimalisir dampak dari resesi itu sendiri,” kuncinya.

Namun, disisi lain, Irwan juga menguraikan, di akhir Oktober masa pandemi akibat covid-19 masih berlangsung, data PHK terus berkurang. Sudah banyak perusahaan yang kembali mempekerjakan karyawannya, tidak sebanyak saat awal pandemi. 

“Di awal-awal kita menangani laporan PHK rata-rata 20 sampai 30 per hari, sekarang rata-rata sisa 5 per hari,” pungkas Irwan.

Sementara, pengamat ekonomi Universitas Negeri Makassar (UNM), Syamsu Alam mengatakan, salah satu ancaman nyata akan menghadang dampak resesi adalah pengangguran dan kemiskinan akan semakin meningkat.

“Dari sisi ekonomi yang berbahaya adalah kemungkinan rendahnya daya beli karena harga naik. Efek lanjutannya pengangguran dan kemiskinan meningkat,” jelasnya saat dihubungi infosulsel.com, Kamis (29/10/2020).

Hal yang tak harus terjadi menghadapi resesi adalah kemacetan ekonomi atau mati secara tiba-tiba. “Yang penting ekonomi tidak tiba-tiba stuck atau suddent death,” ucapnya.

Olehnya itu, dosen yang karib disapa Alam ini menguraikan salah satu langkah sederhana menghadapi resesi ekonomi adalah harus hidup serba sederhana. “Langkah sederhana adalah hidup sederhana. Perketat ikat pinggang. Sementara, secara makro harus mengurangi belanja yang tidak produktif,” ungkapnya.

Kata Alam, beberapa langkah yang dilakukan oleh pemerintah sudah tepat. Salah satunya, belanja sosial untuk daya beli masyarakat berpendapatan rendah. Tetapi, untuk UMKM dan sektor pertanian pemerintah dinilai masih kurang berpihak.

“Tinggal di awasi mekanismenya supaya tidak ada korupsi di sana. Yang masih kurang keberpihakan pada UMKM dan sektor pertanian. Padahal 2 sektor ini bisa menopang suatu negara yang dilanda resesi,” demikian ungkap Alam.

 

Penulis: Andi
Editor : Suhandi Saminja

Pos terkait