Nurhaldin Bantu Rosmiati, Ibu Penderita Gizi Buruk Akut

  • Whatsapp
Selian memberikan bantuan uang tunai dan sembaki, Wakil Ketua DPRD Kota Makassar, Andi Nurhaldin NH juga membawa Rosmiati, ibu penderita gizi buruk akut ke rumah sakit untuk dirawat.(IST)

INFOSULSEL.COM, MAKASSAR — Wakil Ketua DPRD Makassar Andi Nurhaldin Nurdin Halid  kembali menunjukan kepeduliannya kepada masyarakat tidak mampu. Legislator Partai Golkar ini menyambangi rumah Rosmiati,  ibu penderita gizi buruk akut yang beberapa tahun terakhir terkulai lemas, Jumat (7/5/2021).

Janda beranak empat ini sudah beberapa tahun terakhir terbaring di rumahnya. Rumah yangh ditinggalinya pun sangat-sangat memprihatinkan. Sebuah rumah panggung yang sudah reot di sebuah lorong sempit dan becek di RT 008 RW 01, Jalan Naja Dg Nai, Kelurahan Rappokalling, Kecamatan Tallo, Kota Makassar.

Bacaan Lainnya

Putra sulung mantan Ketua DPD Partai Golkar Sulawesi Selatan Andi Nurdin Halid ini datang tak sendiri. Ia ditemani sang istri, Yunilia Dwi Pratiwi.

Nurhaldin yang juga bendahara MPW Pemuda Pancasila ini juga membawa bantuan berupa uang tunai dan sembako. Bantuan tersebut salah satunya diinisiasi oleh Andi Nurbani Nurdin,  ibu kandung Nurhaldin.

“Ini bantuan dari keluarga besar kami. Semoga ibu Rosmiati lekas sembuh dan bantuan ini bisa menjadi berkah di bulan ramadhan,” kata Nurhaldin dengan mata berkaca-kaca.

Nurhaldin tidak hanya sekadar membawa bantuan. Ia juga memboyong Rosmiati ke Rumah Sakit Umum Daya untuk mendapatkan perawatan intensif. Ia berinisiatif membawa wanita ini. Sebab kondisinya sangat memprihatinkan. Tubuhnya kurus, lemah tak bertenaga.

Nurhaldin disambut Direktur RS Daya dr ArdinSani. Rosmiati kemudian langsung dibawa ke ruang perawatan.

Rosmiati tinggal bersama tiga putra-putrinya di sebuah gubuk.  Aisyah adalah putri sulungnya. Ia baru berusia 11 tahun. Namun, gadis kelas V SD  inilah yang menjadi tulang punggung keluarganya selama ini. Ia menggantikan peran ayahnya. Sang ayah pergi entah kemana sejak ibunya, Rosmiati terkulai sakit.

Aisyah masih punya tiga adik lagi. Semuanya laki-laki. Ketiganya masih kecil. Adam, 5 tahun dan, dan Roni 2 tahun.  Sementara satu adiknya lagi, Ilyas, 9 tahun ikut bersama ayahnya.

Nurhaldin dan keluarga besar Nurdin Halid (NH) merasa terpanggil dan prihatin setelah mendengar kabar ada seorang ibu yang menderita gizi buruk akut dan tidak mendapatkan jaminan kesehatan. Lebih miris lagi kala ia tahu jika ibu tersebut memiliki tiga anak yang masih kecil dan ditinggal pergi suaminya.

“Tolong layani dan perhatikan ibu Rosmiati ini bu Dir,” kata Nurhaldin kepada Direktur RS Daya, dr ArdinSani.

Sebagai wakil rakyat dan menjabat sebagai pimpinan DPRD Kota Makassar Nurhaldin tidak pernah malu apalagi sungkan mendatangi warga tidak mampu. Bagi legislator yang terpilih dari Daerah Pemilihan (Dapil) IV Makassar ini jabatan hanyalah sementara.

‘’Kita ini hanyalah manusia biasa. Di mata Tuhan, kita semua sama. Tetapi sebagai seorang pemimpin kita harus peka dan responsif terhadap masalah rakyat,” katanya.(riel)

Saat Nurhaldin mendatangi rumah yang ditinggali Rosmiati yang sudah mulai rapuh itu, hujan baru saja turun. Ini membuat jalan masuk ke lorong sempit di pemukiman penduduk tersebut, sagat becek. Namun kondisi itu tak mengurungkan niat baik Nurhaldin untuk sampai ke rumah tersebut, meski harus ekstra hati-hati untuk melaluinya.

Kondisi rumah yang ditinggali Rosmiati cukup memprihatinkan. Lantai kayu rumah panggunhg tersebut ditambal di sana-sini. Atapnya bocor-bocor. Jika hujan turun air mengucur dari atap yang dilapisi terpal berwarna biru.

Dalam kondisi seperti itulah Ros, panggilan akrabnya wanita yang sudah dua tahun terkulai lemas tak berdaya, hidup bersama tiga anaknya. Tubuhnya kurus.

Sebelum menderita sakit, Ros bekerja di sebuah pabrik roti. Ketika hamil anak keempatnya, ia mulai merasakan kelainan pada dirinya. Kulitnya berubah menjadi hitam. Kondisi itu berlangsung hingga saat ini. Bahkan, kini sebagian kulitnya melepuh.
Selama sakit itulah, Aisyah mengambil peran ayah dan ibunya. Ia menjadi tulang punggung, mencari nafkah demi menyambung hidup keluarganya. Setiap subuh dia berkeliling menjajakan kue donat dari tetangganya. Ia hanya mendapat upah Rp8.000 sehari untuk sekadar membeli makan.
Meski hidup serba tak berkecukupan namun Aisyah masih tetap bisa bersekolah. Ia kini sudah duduk di bangku kelas V SD. Harapan putri sulung ini hanya satu, ibunya, Rosmiati bisa segera pulih.(riel)

Pos terkait