Pedagang Bendera Marak di Makassar, dari Sabang Sampai ke Subang 

MENYAMBUT perayaan 17-an,  penjual bendera jalanan muncul bak jamur di musim hujan. Nyaris di sepanjang jalan di dalam kota Makassar dihiasi oleh pedagang bendera. Salah satunya pedagang di Jalan AP Pettarani.

Para pedagang musaimna ini tidak hanya dimonopoli warga Makasar. Tapi ada pula yang dari Subang, Garut dan Bandung Jawa Barat sampai orang dari Sabang, Nangroh Aceh Darussalam (NAD).

Pendi, misalnya.  Remaja berusia18 tahun ini jauh-jauh datang dari Garut, Jawa Barat. Sejak Selasa pekan lalu ia mulai mengelar dagangannya di depan kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Jalan AP Pettarani. Ini pun kali pertama ia datang ke Makassar.

Pendi mengaku baru pertama berjualan di Makassar. Ia tidak sendiri. Remaja yang baru lulus SLTA ini datang bersama delapan kawan sekampungnya.

Bendera dan atribut 17-an ia bawa dari Garut yang  merupakan hasil kerajinan sebuah industri rumah tangga di daerahnya. Pendi sudah berjualan sejak tahun 2007. Ia setiap tahun keliling Indonesia berjualan.

Sebelum di Makassar, Pendi bersama rekannya dari Subang dan Bandung berjualan di Jakarta. Harga bendera dibandrol Pendi dari termurah Rp 15.000 dan termahal dipatok Rp 100.000. Opik mengaku setiap tahun dagangannya laris dan selalu habis bendera yang dijualnya. Opik dan Pendi hanya membawa dua karung besar berisi bendera dengan berbagai ukuran, apabila habis nanti bisa menghubungi rekannya di Garut untuk membawakan lagi bendera, ujarnya.

Asmaun, pedagang bendera keliling lainnya dari Sabang,  NAD, mengaku kebanjiran order. Dia yakin omzet tahun ini lebih banyak dari tahun kemarin. Tahun kemarin, ia menangguk untung Rp300.000 per hari.

“Biasanya warga membeli tiang bendera setinggi tiga meter untuk mengibarkan bendera atau umbul-umbul seharga Rp30.000 hingga Rp45.000,” kata Pendy di Makassar, Rabu, 2 Agustus 2017.

Harmawati, 28, pedagang lain di menggelar dagangganya di Jalan Hertasning, mengaku, bendera yang dijual tahun ini banyak model dan ukuran. Dua di antaranya model bergelombang ombak dan bergaris.

Ibu dua anak itu menambahkan, pembeli biasa membeli bendera ukuran 90 x 135 centimeter seharga Rp50.000. Bendera ukuran 70 x 100 cm dijual seharga Rp50.000, umbul-umbul setinggi tiga meter Rp50.000, bendera kecil dijual seharga Rp10.000 per helai. Hamrawati mendapatkan pasokan bendera dari konveksi. “Saya berharap pembeli ramai seperti tahun kemarin,” katanya.

Pedagang bendera lain, Yadi, 40, pun berharap sama. Ingin barang dagangnnya terjual habis. Namun ia yakin tahun ini peminat bendera, umbul-umbul dan akseroris 17 Agustusan akan jauh lebih banyak peminatnya. Alasannya, sejak membentang bendera dagangannya di Jalan AP Pettarani pada 28 Juli lalu setiap hari ia mendapat omset rata-rata Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta.

‘’Yang paling ramai waktu akhir bulan. Malah omset saya tiga hari berturut-turut sampai Rp 1,5 juta,” ungkap Yadi saat ditemui Rabu (10/8/2017) siang.

Seperti pedagang bendera lainnya, Yadi juga menawarkan bendera dari berbagai ukuran dengan harga yang berfariasi pula. Mulai dari ukuran 2 x 3 meter seharga Rp250.000, bendera ukuran 80 x 120 cm seharga Rp85.000. Selain bendera, toko Yadi juga menjual umbul-umbul berbagai ukuran dan warna.

Penulis/Ril

 

Pos terkait